JAKARTA — Langkah politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang gencar melakukan safari politik di tengah bergulirnya proses hukum terkait gugatan ijazahnya dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap kecerdasan masyarakat. Jokowi dituding sengaja meremehkan (underestimate) nalar publik demi menjaga pengaruh politiknya.
Kritik tajam tersebut dilontarkan oleh pengamat politik sekaligus jurnalis senior, Lukas Luwarso. Menurutnya, aktivitas publik yang dipertontonkan Jokowi saat ini menunjukkan sikap abai yang disengaja terhadap persoalan hukum serius yang sedang berjalan.
“Jokowi ini sedang meremehkan nalar publik. Ada underestimate yang luar biasa. Bagaimana mungkin di saat proses hukum terkait kasus ijazahnya sedang berjalan, dia justru sibuk menyiapkan dan memamerkan safari politik ke berbagai daerah,” ujar Lukas dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Lukas menilai, safari politik tersebut bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah manuver taktis untuk mengalihkan perhatian publik dari substansi gugatan hukum. Dengan membanjiri ruang publik lewat narasi dan mobilisasi politik, isu krusial mengenai keabsahan dokumen akademisnya coba dikaburkan.
Sikap jemawa ini, lanjut Lukas, lahir dari keyakinan bahwa opini publik bisa dikendalikan dan diredam melalui panggung teatrikal politik. Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana elite kekuasaan merasa berada di atas hukum dan menganggap masyarakat mudah dikecoh oleh kosmetik politik.
“Ini bukan sekadar soal ijazah, ini soal etika kepemimpinan. Ketika nalar publik terus-menerus diremehkan dengan tontonan safari politik seperti ini, di situlah degradasi moralitas politik kita sedang dipertontonkan secara telanjang,” tegasnya.



