JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase kritis setelah upaya negosiasi terbaru dilaporkan menemui jalan buntu. Teheran secara tegas menolak berhadapan langsung dengan utusan Washington, sembari mengajukan proposal kompromi yang memisahkan isu keamanan maritim dari sengketa nuklir mereka yang panjang.
Keengganan Berunding di Bawah Moncong Pistol
Sikap Iran tetap tidak bergeming: mereka tidak akan duduk di meja perundingan selama Amerika Serikat masih menerapkan coercive diplomacy atau diplomasi tekanan. Kehadiran armada tempur AS di perairan Oman dianggap Teheran sebagai ancaman, bukan undangan berdialog.
Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, pengamat dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (IPSI), Aisha R. Kusumasomantri, menjelaskan bahwa Iran memilih jalur diplomasi melalui negara penjamin (guarantor) seperti Rusia, China, dan Oman. Strategi ini menunjukkan bahwa Teheran tidak lagi mempercayai komitmen AS secara bilateral, terutama setelah trauma pembatalan sepihak kesepakatan nuklir di masa lalu.
Proposal Iran: Memisahkan Nuklir dari Hormuz
Dalam perkembangan terbaru, Teheran menawarkan skema perundingan yang disebut sebagai de-coupling atau pemisahan isu. Iran bersedia memberikan jaminan keamanan di Selat Hormuz—jalur nadi energi dunia—asalkan pembahasan mengenai pembatasan nuklir mereka ditangguhkan.
Aisha R. Kusumasomantri menilai bahwa tawaran ini jauh lebih menguntungkan posisi Iran. Dengan memisahkan kedua isu tersebut, Iran ingin menunjukkan bahwa mereka memegang kendali atas stabilitas jalur perdagangan global tanpa harus menyerahkan kedaulatan riset nuklirnya di bawah tekanan blokade ekonomi sesaat.
Resiliensi Melawan Waktu
Meskipun blokade AS diperkirakan merugikan Iran hingga belasan miliar dolar per bulan, Teheran tampak tidak terburu-buru. Aisha menekankan bahwa dengan pengalaman sanksi selama 40 tahun, Iran memiliki daya tahan domestik yang cukup kuat untuk menghadapi perang jangka panjang.
Iran diprediksi akan menunggu hingga tekanan politik internal di Washington meningkat menjelang pemilu sela (midterm election). Di sisi lain, posisi Gedung Putih terjepit; Donald Trump membutuhkan narasi kemenangan diplomatik untuk suara domestik, namun tuntutan maksimalis Iran adalah pil pahit yang sulit ditelan oleh politik luar negeri AS saat ini.
Bayang-bayang Perang Mengambang
Situasi ini diprediksi akan bermuara pada skenario negative peace atau perdamaian negatif. Tidak ada perang terbuka yang menghancurkan, namun tidak ada pula kesepakatan damai yang nyata. Kedua negara kemungkinan besar akan terjebak dalam status quo yang tegang, di mana provokasi kecil di lapangan bisa sewaktu-waktu memicu ledakan konflik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Hingga berita ini diturunkan, bola panas diplomasi masih berada di tangan Washington untuk merespons proposal “pemisahan isu” yang diajukan oleh Teheran.



