Sri Radjasa Pemerhati Intelijen
Kekuasaan tidak selalu runtuh karena hantaman oposisi. Seringkali, ia rapuh dari dalam akibat perilaku orang-orang di lingkaran inti yang gagal memahami denyut nadi publik. Mengutip Lord Acton, kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak pasti akan korup. Namun, korupsi di sini bukan sekadar soal materi, melainkan korupsi etika dan nalar yang memicu hilangnya legitimasi publik.
Belakangan, publik disuguhi fenomena menarik dari Seskab Letkol Teddy. Sebagai gatekeeper istana, pernyataan Teddy adalah representasi suara Presiden. Namun, alih-alih menjadi jembatan komunikasi yang elegan, ia justru kerap menggunakan narasi sarkastik yang merendahkan.
Pernyataan terbarunya mengenai “inflasi pengamat” adalah contoh nyata. Tanpa data transparan, ia menuding banyak pengamat berkomentar di luar kompetensi. Ironisnya, pernyataan ini justru menjadi bumerang. Publik balik bertanya: apakah Teddy sudah bercermin sebelum menguliti orang lain? Diksi yang keliru ini tidak hanya merusak citra pemerintah, tapi juga menyingkap kadar kualitas intelektualnya sendiri.
Produk Instan di Panggung Strategis
Di berbagai kesempatan, sikap Teddy tampak kurang matang. Jawaban “pokoknya ada” saat ditanya anggaran pasar murah menunjukkan gaya komunikasi yang tidak akuntabel. Sikap over-protective yang cenderung arogan saat mengawal Presiden Prabowo pun menciptakan pemandangan yang tak elok.
Fenomena Teddy adalah representasi dari apa yang kita sebut sebagai “Hambalang Boy”. Mereka adalah produk uji coba Prabowo untuk mendorong generasi muda ke panggung nasional. Sebuah langkah strategis yang sebenarnya patut diapresiasi, namun sayangnya tampak kurang dipersenjatai dengan kematangan emosional dan spiritual.
Para kader muda ini menduduki jabatan mentereng semata-mata karena fasilitas dan kedekatan relasi kekuasaan. Mereka adalah “produk instan” yang mungkin terinspirasi dari perjalanan karier Prabowo di masa lalu. Namun, kita jangan lupa bahwa karier cepat yang ditopang relasi kekuasaan seringkali meninggalkan jejak kontroversi.
Pemimpin Bukan Sekadar Jabatan
Menjadi pemimpin bukan sekadar perkara memiliki jabatan mentereng di usia muda. Ki Hajar Dewantara telah menggariskan konsep keteladanan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Pertanyaannya: apakah kehadiran “Hambalang Boy” dalam tata kelola negara ini adalah bagian dari solusi (problem solving), atau justru menjadi beban masalah baru (problem taking)?
Pemimpin sejati lahir dari ujian kesabaran dan perjalanan hidup yang penuh pasang surut, sebagaimana kriteria para Nabi dan Rasul yang dipilih Tuhan. Mereka tidak lahir dari kemewahan instan tanpa keringat perjuangan. Maka, mereka yang hari ini terpinggirkan atau diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan, sesungguhnya sedang ditempa untuk menjadi pemimpin sejati yang jauh lebih otentik dibanding mereka yang besar karena bayang-bayang kuasa.



