Eks Intelejen BIN : Faktanya Masyarakat Indonesia Sedang Cemas !

whatsapp image 2026 08 10 at 10.18.05

JAKARTA — Kondisi psikologis masyarakat Indonesia saat ini dinilai telah bergeser ke dalam tingkat yang mengkhawatirkan dan memasuki apa yang disebut sebagai “fase kegelisahan.” Sikap tampak tenang yang diperlihatkan publik di permukaan bukanlah bentuk dukungan terhadap penguasa, melainkan manifestasi dari ketakutan dan tekanan yang sewaktu-waktu dapat meledak.

Peringatan psikologi sosial politik tersebut diungkapkan oleh mantan anggota Badan Intelijen Nasional (BIN), Kolonel Inf. (Purn. TNI) Sri Rajasa Candra, dalam perbincangan di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.

Sri Rajasa Candra menjelaskan bahwa ketenangan masyarakat saat ini tergolong sebagai kepatuhan dingin (cold compliance). Publik memilih diam bukan karena percaya pada pemerintah, melainkan karena besarnya risiko serta tingginya biaya yang harus ditanggung jika menunjukkan ketidakpatuhan.

“Kepatuhan rakyat saat ini ada karena untuk tidak patuh itu biayanya mahal—takut dikriminalisasi atau ditahan. Jadi mereka patuh karena takut, bukan karena percaya atau senang dengan penguasa. Penguasa jangan salah membaca situasi ini,” tegas Sri Rajasa Candra.

Ia menekankan bahwa indikator paling berbahaya dari fase kegelisahan ini terletak pada kondisi kelas menengah yang kian tergerus. Berbeda dengan kelompok masyarakat bawah yang kerap menerima kemiskinan sebagai takdir, kelas menengah memiliki batas toleransi yang sangat rentan ketika kenyamanan serta kepastian masa depan mereka dirampas secara tiba-tiba.

“Ketika hak hidup dan kesempatan ekonomi kelas menengah mulai terusik, ini tidak main-main. Kelas menengah ini yang akan menggerakkan kemiskinan dan penderitaan menjadi api perlawanan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sri Rajasa Candra menilai bahwa kemarahan kolektif publik kini telah berada di titik jenuh akibat krisis ekonomi dan pamer kemewahan oknum pejabat di tengah penderitaan rakyat. Dalam kalkulasi intelijen, kondisi psikologis massa yang berada dalam fase kegelisahan hanya membutuhkan satu faktor pemantik untuk memicu eskalasi yang lebih besar.

“Kemarahan kolektif ini sudah terjadi di mana-mana dan sifatnya tinggal menunggu pemicu (trigger) atau hadirnya figur sentral. Jika tidak ada perbaikan nyata pada urusan perut dan rasa keadilan rakyat, fase kegelisahan ini sangat rawan bertransformasi menjadi gelombang perlawanan terbuka,” pungkas Sri Rajasa Candra.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top