JAKARTA — Indonesia dinilai tengah berada dalam cengkeraman krisis multidimensional akibat tekanan berat yang terjadi secara bersamaan di lima domain utama. Jika tidak segera ditangani dengan terobosan ekstrem, akumulasi tekanan di seluruh lini ini berpotensi meruntuhkan stabilitas nasional.
Peringatan keras tersebut disampaikan mantan anggota Badan Intelijen Nasional (BIN), Kolonel Inf. (Purn. TNI) Sri Rajasa Candra, dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Sri Rajasa Candra merinci lima domain utama yang kini mengalami tekanan simultan dan memperburuk kondisi sosial-politik nasional:
- Domain Ekonomi: Terjadinya pemburukan indikator makro hingga mikro yang berdampak langsung ke dapur masyarakat. “Dolar menembus angka Rp18.000, gelombang PHK tembus puluhan ribu orang, dan sedikitnya 10 juta orang kelas menengah merosot turun kelas. Kenaikan BBM dan harga pangan bukan lagi isu politik, tapi penderitaan nyata rakyat,” tegasnya.
- Domain Legitimasi Hukum: Anjloknya kepercayaan publik akibat maraknya skandal korupsi dan maraknya aksi pamer kekayaan (flexing) para penegak hukum. “Ketika kepercayaan publik terhadap penegakan hukum drop sampai titik nol, yang runtuh bukan sekadar institusi hukum, negara ini yang runtuh,” ujar mantan prajurit intelijen tersebut.
- Domain Politik: Kegagalan pemerintah dalam membaca aspirasi publik serta kecenderungan bersikap overconfident dengan hanya mengandalkan pembentukan satgas-satgas ketimbang menyelesaikan akar masalah.
- Domain Kohesi Sosial: Munculnya fraksi-fraksi dan upaya pembelahan di tingkat gerakan sipil maupun mahasiswa guna meredam konsolidasi perlawanan.
- Domain Perang Narasi: Terjadinya pengabaian dan pembungkaman terhadap gelombang aksi protes di berbagai daerah oleh media arus utama, yang justru memperluas sumbatan komunikasi antara rakyat dan penguasa.
Menurut Sri Rajasa Candra, kelima domain ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling mengunci dan mempercepat laju krisis.
“Pemerintah salah membaca situasi jika menganggap tenang situasi hari ini. Kepatuhan rakyat saat ini adalah kepatuhan dingin karena takut dikriminalisasi. Tapi begitu perut dan hak dasar mereka terusik, akumulasi krisis di lima domain ini akan menjadi perlawanan terbuka,” pungkasnya.



