JAKARTA – Ketegangan di Selat Hormuz mengungkap rapuhnya aliansi strategis Amerika Serikat di Timur Tengah. Wartawan senior dan pengamat hubungan internasional, Pitan Daslani, seperti dikutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, menilai bahwa negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania kini terjebak dalam dilema mematikan antara komitmen sebagai sekutu utama Amerika dan risiko menjadi target empuk rudal-rudal Iran.
Dilema ‘Payung Keamanan’ yang Bocor
Negara-negara Teluk telah lama menggantungkan keamanan mereka pada payung militer Amerika melalui status Sekutu Utama Non-NATO. Status ini memberikan mereka akses istimewa ke persenjataan canggih AS. Namun, Pitan mencatat bahwa senjata-senjata tersebut ternyata tidak mampu memberikan rasa aman total.
“Negara-negara ini telah mengucurkan triliunan dolar untuk membeli sistem pertahanan Amerika. Namun, ketika Iran menunjukkan taringnya di Hormuz, mereka sadar bahwa pangkalan militer AS di tanah mereka justru menjadi magnet bagi serangan balasan Iran,” ujar Pitan.
Manuver ‘Tutup Langit’ terhadap Pentagon
Salah satu kejutan terbesar dalam konflik ini adalah keengganan sekutu-sekutu Arab untuk mengizinkan wilayah udara mereka digunakan sebagai titik peluncuran serangan AS ke Iran. Irak, Uni Emirat Arab, dan Bahrain dilaporkan mengambil langkah tegas untuk menjauhkan diri dari operasional militer langsung Amerika.
Pitan melihat ini sebagai tindakan penyelamatan diri. “Mereka lebih takut pada serangan drone Houthi dan rudal balistik Iran daripada tekanan diplomatik Washington. Bagi mereka, memfasilitasi serangan AS sama saja dengan mengundang kehancuran fasilitas minyak mereka sendiri,” tegasnya.
Arab Saudi: Investor Utama Sekaligus Target Terdepan
Pitan menyoroti posisi unik Arab Saudi yang bertindak sebagai penyokong dana industri pertahanan Amerika. Melalui komitmen investasi hingga 1 triliun dolar AS, Saudi secara tidak langsung membiayai pengembangan senjata modern AS.
Namun, di lapangan, Saudi justru berada dalam posisi yang sangat rentan. Ketergantungan pada tentara bayaran dan pasukan sekutu seperti Pakistan (yang menyiagakan 13.000 personel di tanah Saudi) menunjukkan bahwa rezim tersebut merasa tidak cukup kuat untuk menghadapi konfrontasi langsung dengan poros Iran tanpa tameng manusia.
Pergeseran ke Arah Netralitas Terpaksa
Menurut analisis Pitan, kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma di mana sekutu-sekutu tradisional Amerika di Timur Tengah mulai mencari jalan tengah. Mereka tidak lagi memberikan cek kosong kepada Gedung Putih.
“Munculnya kesadaran untuk tidak berpihak secara terbuka adalah strategi bertahan hidup. Mereka melihat Amerika mulai kehilangan kontrol, dan Iran terbukti mampu bertahan di bawah sanksi. Menjadi ‘Sekutu Utama’ kini menjadi beban geopolitik yang sangat mahal bagi negara-negara Arab tersebut,” jelas Pitan.
Retaknya Hegemoni di Tanah Arab
Analisis Pitan Daslani memberikan gambaran bahwa label “Sekutu Non-NATO” bukan lagi jaminan supremasi Amerika di kawasan Teluk. Ketakutan akan pembalasan Iran telah memaksa para raja di Timur Tengah untuk berpikir ulang mengenai kesetiaan mereka, demi menjaga kelangsungan ekonomi dan stabilitas domestik mereka sendiri.



