TEHERAN — Lanskap pertempuran di Asia Barat hari ini telah mengubur dalam-dalam doktrin militer konvensional. Konfrontasi bersenjata yang mempertemukan Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini sepenuhnya bertransformasi menjadi panggung pembuktian konsep perang modern: perang asimetris yang mengadu kecerdasan buatan (artificial intelligence), supremasi siber, dan keunggulan teknologi mutakhir tanpa adanya kontak fisik manusia di darat.
Medan laga kini berpindah sepenuhnya ke langit, di mana manuver tank dan pengerahan infanteri berskala besar telah digantikan oleh presisi kalkulasi algoritma, satelit mata-mata, dan armada pesawat tanpa awak (drone).
Pengamat Hubungan Internasional, Pitan Daslani, menilai bahwa lompatan teknologi militer buatan dalam negeri Iran menjadi faktor utama mengapa Teheran mampu meladeni gempuran negara adidaya militer sekelas Amerika Serikat. Iran membuktikan bahwa perang modern tidak lagi ditentukan oleh mahalnya ongkos produksi senjata, melainkan efisiensi dan kecepatan regenerasi teknologi.
“Perang sekarang adalah teknologi lawan teknologi, bukan lagi manusia berhadapan dengan manusia. Orang tinggal memencet tombol dari jarak ribuan kilometer. Di tengah kepungan sanksi Barat, Iran justru berhasil menaikkan kapasitas produksinya hingga 150 persen dari stok sebelum perang,” ungkap Pitan Daslani dalam bedah strategi militer di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (12/6).
Kemampuan manufaktur militer Teheran terbukti berada di luar kalkulasi intelijen Barat. Pitan mengungkapkan, dalam satu minggu, industri pertahanan Iran mampu memproduksi hingga 500 unit rudal dan drone secara mandiri. Yang paling mengejutkan adalah efisiensi biayanya; satu unit drone serang presisi Iran hanya membutuhkan modal sekitar 20.000 hingga 30.000 USD.
Angka ini berbanding terbalik dengan biaya operasional militer AS yang luar biasa mahal, seperti penggunaan drone MQ-9 Reaper yang memiliki batas ketinggian terbang hingga 50.000 kaki dan dilengkapi presisi kecerdasan buatan (AI) untuk memburu target. Sebagai respons atas dominasi udara lawan, Iran kini telah mengaktifkan sistem penangkal serangan udara mandiri bernama Arasika Manger, sebuah teknologi pertahanan lokal yang diklaim memiliki efektivitas setara dengan sistem Patriot milik AS dan S-400 milik Rusia.
Di akhir analisisnya, Pitan Daslani memberikan peringatan tajam bagi arsitektur pertahanan Indonesia untuk segera memetik pelajaran dari revolusi militer di Timur Tengah ini.
“Persepsi ancaman global sudah berubah total, perang hari ini adalah tentang siber, big data, dan AI. Sangat disayangkan jika paradigma pertahanan kita masih terfokus di darat dengan membeli tank atau kendaraan lapis baja. Jika wilayah udara sebuah negara kepulauan serapuh kita tidak dibentengi oleh sistem pertahanan udara berbasis teknologi tinggi, kita hanya akan menjadi objek yang tak berdaya menghadapi rudal jarak jauh modern,” pungkas Pitan.



