JAKARTA — Sikap dan narasi yang dibangun oleh pengamat politik Rocky Gerung kembali mendulang kritik tajam dari sesama intelektual. Rocky dinilai mulai kehilangan taji dan daya kritisnya saat berhadapan dengan dinamika lingkaran pemerintahan Prabowo
Sentilan tajam tersebut dilontarkan oleh jurnalis senior Lukas Luwarso dalam forum diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Dalam tayangan tersebut, Lukas menyoroti bagaimana narasi pembenaran yang dilontarkan Rocky Gerung terkait pergantian posisi menteri terkesan dangkal dan mengabaikan substansi persoalan ekonomi yang sesungguhnya.
Kritik Dukungan “Buta” dan Degradasi Intelektual
Lukas Luwarso menilai pandangan Rocky Gerung yang belakangan ini terkesan membela atau memaklumi berbagai program ambisius pemerintahan OPrabowo yang diglorasi sosialisme tanpa dasar argumentasi kritis yang kuat.
“Rocky Gerung yang selama ini dikenal vokal dan kritis terhadap pemerintah, kini malah memperlihatkan sikap yang mendukung secara ‘buta’ pemerintahan sekarang dengan dalih idiologi sosialisme. Padahal tidak demikian faktanya,” sentil Lukas dalam diskusi di kanal Abraham Samad SPEAK UP.
Menurut Lukas, seorang intelektual seharusnya konsisten membedah akar persoalan struktural dan kebijakan publik, bukan justru sibuk memberikan panggung pembelaan terhadap kompromi-kompromi politik pragmatis yang dilakukan oleh penguasa.
Melupakan Akar Masalah Ekonomi
Lebih lanjut, Lukas menyayangkan narasi publik yang dibangun Rocky karena dinilai mengalihkan perhatian masyarakat dari ancaman “kanker ekonomi” yang sedang menggerogoti Indonesia.
Di saat negara menghadapi masalah mendasar seperti beban utang yang menumpuk, kebocoran anggaran, dan cengkeraman oligarki, sikap intelektual yang cenderung memaklumi reshuffle justru membiarkan masalah utama tersebut tertutup oleh panggung politik pencitraan.
Pentingnya Indepedensi Kalangan Terpelajar
Kritik terhadap Rocky Gerung ini menjadi pengingat penting bagi peran kaum intelektual di Indonesia. Masyarakat sipil dan aktivis menaruh harapan besar agar para pengamat dan akademisi tetap konsisten berada di jalur independen.
Melalui diskusi di kanal Abraham Samad SPEAK UP, Lukas menegaskan bahwa daya kritis masyarakat sipil tidak boleh tumpul. Kaum intelektual dituntut untuk terus mengawal kebijakan penguasa secara rasional dan objektif, bukan justru terjebak dalam arus legitimasi kekuasaan yang mengorbankan kepentingan rakyat luas.



