KUALA LUMPUR, KOMPAS / MEDIA NEWS — Isu kabut asap lintas batas (transboundary haze) akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia kembali memicu ketegangan diplomatik dan menyedot perhatian publik di kawasan Asia Tenggara. Suasana sidang Dewan Rakyat Malaysia mendadak menyita perhatian publik setelah salah satu anggotanya menyampaikan protes keras dengan cara unik: menggunakan bahasa Jawa yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
1. Momen Unik di Parlemen Malaysia: Sindiran dalam Bahasa Jawa
Dalam sidang di Dewan Rakyat Malaysia, anggota parlemen dari daerah pemilihan Sabak Bernam (partai oposisi), Kalam Salan, menyampaikan intervensinya dengan gaya yang tak biasa. Setelah mengantongi izin dari pimpinan sidang, Kalam sengaja beralih dari Bahasa Melayu ke Bahasa Jawa.
- Alasan Penggunaan Bahasa Jawa: Kalam berseloroh bahwa mayoritas pemimpin dan pejabat tinggi di Indonesia memiliki latar belakang budaya Jawa. Ia berharap, dengan memakai bahasa ibu Presiden Prabowo Subianto, pesan dan desakan yang disampaikannya dapat didengar lebih intensif, diresapi secara personal, serta segera ditindaklanjuti.
- Pesan Utama Kalam Salan:
- Salam Budaya & Sapaan: Momen tersebut dibuka dengan salam diplomasi budaya, “Assalamualaikum, Pak Prabowo. Pripun kabare? Paringi waras, nggih” (Bagaimana kabarnya? Semoga diberi kesehatan).
- Desakan Pemadaman Segera: Ia meminta Presiden Prabowo mengambil langkah cepat untuk memadamkan titik api di Indonesia agar “pengiriman” kabut asap tahunan ke Malaysia bisa dihentikan.
- Kritik ‘Klaim Oksigen’: Kalam menyinggung narasi lama yang mengklaim bahwa hutan Indonesia menyuplai oksigen bagi kawasan. Dengan nada sinis ia berujar, “Ojo digawe guyonan… Alas Malaysia kuwi opo? Mung pokok plastik?” (Jangan dibuat bercandaan… Hutan Malaysia itu apa? Cuma pohon plastik yang tidak bisa menghasilkan oksigen?).
2. Dampak Kerugian Karhutla Bagi Masyarakat Malaysia
Dalam forum parlemen tersebut, dibeberkan pula berbagai dampak nyata dari paparan kabut asap lintas batas yang menyelimuti wilayah Malaysia:
🏥 Ancaman Kesehatan Publik
- Terjadi lonjakan signifikan kasus penyakit saluran pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, batuk parah, hingga iritasi tenggorokan.
- Indeks Pencemaran Udara (IPU) di sejumlah kawasan Malaysia mencatatkan level tidak sehat hingga berbahaya bagi kelompok rentan.
📚 Lumpuhnya Sektor Pendidikan & Pariwisata
- Sejumlah sekolah di wilayah terdampak terpaksa diliburkan demi melindungi kesehatan anak-anak.
- Sektor pariwisata mengalami kemunduran akibat pembatasan jarak pandang (visibility) yang berujung pada pembatalan berbagai rencana penerbangan dan perjalanan wisata.
👷 Kerugian Ekonomi Pekerja Migran Indonesia (PMI)
Kalam secara spesifik menyoroti penderitaan warga negara Indonesia sendiri yang bekerja di perkebunan Malaysia. Kabut asap tebal membuat PMI tidak dapat beraktivitas di lapangan, yang secara langsung memotong penghasilan harian mereka serta mengganggu aliran pengiriman uang (remitansi) ke keluarga di tanah air.
3. Respon Pemerintah Indonesia
Menanggapi sorotan dan kritik tajam dari parlemen negara tetangga, Pemerintah Indonesia melalui jajaran kementerian terkait memberikan tanggapan resmi:
- Penanganan Maksimal di Field (Lapangan): Pemerintah RI menegaskan komitmen penuh dalam menanggulangi Karhutla secara terintegrasi. Saat ini, penanganan di lapangan terus digencarkan secara maksimal melalui operasi pemadaman darat dan water bombing lewat udara di titik-titik rawan Sumatera dan Kalimantan.
- Keterbukaan Kerjasama Regional: Indonesia mengapresiasi perhatian dari negara tetangga dan menekankan pentingnya kolaborasi penanganan berbasis kerangka ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution. Di saat bersamaan, penegakan hukum tegas terus diberlakukan bagi perusahaan maupun individu yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara ilegal.
- Diplomasi Kondusif: Kementerian Luar Negeri beserta kementerian koordinator memastikan jalur diplomasi dengan pihak Malaysia tetap berjalan kondusif, kooperatif, dan terbuka demi penyelesaian masalah bersama tanpa mengabaikan aksi nyata pemadaman di lapangan.
Ringkasan: Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa fenomena Karhutla bukan sekadar isu lingkungan lokal, melainkan persoalan lintas negara yang berdampak langsung pada hubungan diplomatik, kesehatan publik, serta roda perekonomian di kawasan Asia Tenggara.



