Jakarta — Sejarawan Indonesia Prof. Dr. Anhar Gonggong, MA mengungkapkan fakta sejarah partai komunis di manapun di belahan dunia ini untuk mendapatkan kekuasaan selalu diwarnai dengan darah.
‘’Bahwa sepanjang perjalanan untuk mendapatkan kekuasaan, Partai Komunis di manapun di dunia ini, tidak pernah ada yang tidak dengan darah. Tidak ada partai komunis di dunia yang mendapatkan kekuasaan tanpa dengan darah,’’ tegas Prof Anhar dalam Chanel You tube Abraham Samad Speak UP.
Menarik dalam dialog tersebut Prof Anhar langsung memotong pernyataan Abraham Samad sebagai host mengunakan istilah pemberontakan PKI dengan mengganti kata penghianatan PKI. Menurut Prof Anhar, selama ini ada kesalahan yang dilakukan orang ketika membicarakan Gerakan PKI di Indonesia seakan-akan hanya ada di tahun 1965. Padahal sesungguhnya menjadi paling penting diketahui adalah proses sampai di tahun 1965 tersebut.
‘’Di situlah macam macam hal terjadi. Dan itu berkaitan dengan proses bagaimana PKI memahami dan berada dalam situasi tersebut. Ini kaitannya dengan posisi Presiden Soekarno,’’ tambahnya menjelaskan bahwa selama 20 tahun menjabat Presiden sesungguhnya hanya sekitar 6 tahun sebagai Kepala Pemerintahan. Selama Indonesia mencapai kemerdekaan (Merdeka dalam arti kamus besar Indonesia—red) yang selalu memegang pemerintahan adalah parlementer (Perdana Menteri). Soekarno baru kemudian benar menjadi pemimpin setelah ada dekrik kembali ke UUD sebelumnya.
‘’Soekarno sangat anti demokrasi liberal. Bahkan sudah ditegasnya sejak tahun 1930 an, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia mengkritik sistem Demokrasi Parlementer yang dianggap tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia,’’ ujarnya.
Presiden Soekarno mencetuskan konsep politik Nasakom (nasionalisme, Agama, dan Komunisme) dengan maksud menyatukan perbedaan idiologi. Gagasan Nasakom sebenarnya sudah menjadi pemikiran Soekarno sejak 1927, jauh sebelum Indonesia merdeka. Soekarno sempat menulis rangkaian artikel berjudul “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme” dalam majalah Indonesia Moeda. Kader dan simpatisan PKI sangat cerdik memanfaatkan menjadi ruang melakukan propaganda di mana-mana.
‘’PKI merasa mendapatkan kesempatan. Dia merasa punya kekuatan. Didukung lagi dengan Nasakom,’’ tambahnya., Meski demikian, idiologi PKI terus mendapatkan perlawanan dari Kelompok Islam dan Tentara Nasional Indonesia seperti Nasution, Ahmad yani dan lain sebagainya. selengkapnya




anak darah turun pki akan selamanya menjadi pengkhianat, ingat itu!