Frustasi Tidak Didukungan Nato,  Menhan AS Pete Hegseth  Bangun Narasi Provokasi Berbahaya

whatsapp image 2026 03 30 at 09.49.18 (1)

JAKARTA – Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Pizaro Gozali Idrus, melontarkan peringatan keras terkait munculnya narasi religius-radikal dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran. Pizaro menyoroti pernyataan kontroversial Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang menyebut konfrontasi dengan Teheran sebagai “Perang Salib” (Crusade).

Dalam diskusi di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Pizaro menilai penggunaan istilah tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan cerminan dari pergeseran paradigma militer AS ke arah ekstremisme evangelis.

Eskalasi di Luar Logika Militer

Menurut Pizaro, keterlibatan tokoh-tokoh seperti Hegseth dalam kabinet Donald Trump menandakan dominasi kelompok zionisme-kristen yang memandang konflik Timur Tengah melalui kacamata nubuat akhir zaman atau apokaliptik.

“Peter Hegseth adalah sosok konservatif radikal evangelis. Mereka menggambarkan tentara Amerika Serikat seolah-olah diurapi oleh Yesus untuk berperang dengan Iran. Ini sangat berbahaya karena menarik konflik politik ke wilayah perang suci yang tidak mengenal kompromi,” ujar Pizaro.

Ia menambahkan bahwa narasi ini secara sengaja digunakan untuk membangun legitimasi moral di atas tindakan agresi militer yang sebenarnya melanggar hukum internasional dan prinsip sekularisme yang selama ini dijunjung tinggi oleh konstitusi AS.

Memancing Keterlibatan NATO

Pizaro menduga kuat bahwa penggunaan diksi “Perang Salib” juga merupakan strategi komunikasi untuk menyeret negara-negara anggota NATO agar memberikan dukungan penuh. Dengan membingkai konflik sebagai pertarungan peradaban atau nilai-nilai religius, AS berharap negara-negara Eropa yang memiliki kesamaan identitas budaya dapat ikut memikul beban biaya perang yang sangat tinggi.

“Biaya perang melawan Iran sangat luar biasa, bisa mencapai 2 miliar USD per hari. Amerika tidak bisa menanggungnya sendiri. Narasi ini diciptakan untuk mengikat sekutu dalam satu visi ideologis yang sama,” jelasnya.

Dampak Terhadap Dunia Islam

Lebih lanjut, jurnalis spesialis isu Timur Tengah ini memperingatkan bahwa retorika “Perang Salib” hanya akan memperkeruh situasi di kawasan. Alih-alih meredam ketegangan, pernyataan tersebut justru memvalidasi posisi kelompok-kelompok perlawanan di Timur Tengah untuk semakin militan.

Pizaro menekankan bahwa dunia internasional, termasuk Indonesia, harus waspada terhadap perubahan langgam politik luar negeri AS yang kini semakin unilateral dan berbasis ideologi radikal. Ia menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang dinilai kurang tegas dalam mengutuk agresi yang tidak memiliki mandat PBB tersebut.

“Kita sedang melihat sebuah negara adidaya yang digerakkan oleh visi mesianik yang berbahaya. Jika ini dibiarkan, tatanan hukum internasional akan runtuh dan digantikan oleh hukum rimba yang dibungkus narasi agama,” pungkas Pizaro.

 Pete Hegseth merupakan bagian dari kabinet administrasi Donald Trump yang dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok sayap kanan dan pendukung kuat kebijakan pro-Israel di kawasan.

sumber : Menteri Pertahanan AS Menyebut Perang di IRAN Adalah Perang Salib | #SPEAKUP

1 komentar untuk “Frustasi Tidak Didukungan Nato,  Menhan AS Pete Hegseth  Bangun Narasi Provokasi Berbahaya”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top