Gunakan Strategi Perang Asimetris,  Iran Ingin ‘Bangkrutkan’ Amerika Serikat dan Israel

whatsapp image 2026 03 30 at 09.49.18 (5)

JAKARTA – Pengamat hubungan internasional, Pizaro Gozali Idrus, menilai bahwa konflik yang pecah antara Amerika Serikat dan Iran saat ini telah bergeser menjadi perang atrisi (war of attrition) yang bertujuan melumpuhkan ekonomi lawan. Iran dengan kecerdasannya,  secara cerdik menggunakan strategi asimetris untuk memaksa Washington menghabiskan anggaran militer dalam skala raksasa yang tidak berkelanjutan.

Dalam keterangannya di forum Abraham Samad SPEAK UP, Pizaro mengungkapkan bahwa biaya operasi militer AS di Iran telah menyentuh angka yang fantastis, yakni sekitar US$2 miliar atau setara Rp33,9 triliun per hari.

Logika ‘Murah Lawan Mahal’

Pizaro menyoroti ketimpangan biaya antara senjata yang digunakan Iran dengan sistem pertahanan yang harus dikerahkan AS dan Israel. Iran, menurutnya, sengaja meluncurkan ratusan drone dan rudal murah untuk memancing penggunaan sistem penangkis yang sangat mahal.

“Iran mengirim drone seharga US$50.000, tapi untuk menjatuhkannya, AS dan sekutunya harus menembakkan rudal pencegat seperti Patriot yang harga satuannya mencapai US$5 juta. Ini adalah perang logika ekonomi; Iran ingin menguras kantong Amerika sampai mereka tidak sanggup lagi membiayai operasinya,” ujar Pizaro.

Perang Jangka Panjang sebagai Jebakan

Berdasarkan analisisnya, Pizaro menyebut Iran tidak mengejar kemenangan kilat. Sebaliknya, Teheran telah mempersiapkan diri sejak Revolusi 1979 untuk menghadapi perang panjang selama puluhan tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan AS yang membutuhkan hasil cepat guna menjaga stabilitas domestik dan harga energi global.

“Amerika ingin perang pendek karena biayanya luar biasa besar. Namun, Iran justru ingin memperpanjang konflik. Jika perang ini berlangsung lebih dari 100 hari, AS bisa menghabiskan lebih dari US$200 miliar atau setara Rp3.300 triliun. Ini akan memicu gejolak hebat di internal Washington,” tambahnya.

Blokade Selat Hormuz dan Inflasi Global

Selain pengeluaran militer langsung, Pizaro mengingatkan bahwa strategi ekonomi Iran juga mencakup tekanan pada jalur perdagangan energi dunia. Blokade de facto di Selat Hormuz tidak hanya memicu kenaikan harga minyak hingga US$200 per barel, tetapi juga menambah beban inflasi yang akan memukul balik ekonomi AS dan negara-negara sekutunya.

“Ini bukan hanya soal rudal lawan rudal, tapi soal siapa yang lebih dulu bangkrut secara ekonomi. Iran telah terbiasa diembargo selama 40 tahun, mereka punya daya tahan. Sementara AS, dengan utang yang terus membengkak, sedang mempertaruhkan stabilitas mata uangnya sendiri di medan perang ini,” pungkas Pizaro.

Hingga Maret 2026, laporan Pentagon menunjukkan stok persenjataan presisi AS menyusut drastis, memaksa administrasi Donald Trump untuk mengajukan tambahan anggaran perang darurat kepada Kongres di tengah gelombang protes warga Amerika yang mulai merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok.

1 komentar untuk “Gunakan Strategi Perang Asimetris,  Iran Ingin ‘Bangkrutkan’ Amerika Serikat dan Israel”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top