JAKARTA – Di tengah ambisi pemerintah mengejar visi Indonesia Emas 2045, suara skeptis muncul dari generasi yang seharusnya menjadi aktor utama masa depan tersebut. Hudan Lil M, perwakilan pemuda dari generasi Z, menyampaikan pesan menohok dalam sebuah diskusi mengenai kondisi bangsa menjelang tahun 2026 yang diunggah di kanal You Tube Abraham Samad Speak UP, Sabtu 27/12/2025 kemarin. Hudan menegaskan bahwa bagi anak muda, masa depan saat ini tidak terlihat berkilau, melainkan penuh dengan kecemasan.
Visi Indonesia “Emas” yang Dirasa Semu
Hudan menyoroti kontradiksi antara narasi besar pemerintah dengan realitas yang dihadapi Gen Z. Menurutnya, narasi “Indonesia Emas” saat ini terasa hanya menguntungkan segelintir elite yang mengeruk kekayaan alam, sementara generasi muda dibiarkan berjuang tanpa fasilitas yang memadai.
“Kami merasa 2045 bukan emas, Bang, tapi cemas. Yang dikeruk hanya emasnya saja di Indonesia, tapi ‘emas’ anak mudanya tidak dipersiapkan,’’ ujar Hudan dengan nada prihatin. Ia bahkan menyoroti kebijakan pemerintah memotong anggaran Pendidikan dialihkan untuk MBG.
‘’Anggaran pendidikan dipotong, dialihkan untuk membiayai makanan gratis beracun,’’ ujarnya agak satir mengaku sekarang ini akses lapangan kerja sulit, pemerintah tidak memperlihatkan satu ikhtiar nyata dan serius untuk menyiapkan generasi kami.
Krisis Kepercayaan: Budaya ‘Orang Dalam’ dan Nepotisme
Salah satu poin paling tajam yang disampaikan Hudan adalah kejenuhan anak muda terhadap struktur pemerintahan yang dianggap hanya diisi oleh kelompok “Boomers” yang hobi berolah kata namun nihil aksi nyata. Ia menyebut adanya sentimen negatif yang masif di media sosial terkait fenomena “Orang Dalam” (Ordal).
Hudan memberikan contoh nyata bagaimana Gen Z memperhatikan pengisian jabatan strategis di BUMN atau kementerian yang menurut mereka lebih didasari oleh kedekatan politik ketimbang kompetensi. “Gen Z sekarang sudah capek melihat pejabat yang hobi olah kata, marah-marah, tapi suka joget-joget di saat rakyatnya kesusahan. Kami sangat sensitif soal ‘Orang Dalam’. Begitu tahu pejabat muda yang naik karena koneksi, sentimen itu menjulur sangat cepat,” tegasnya.
Media Sosial sebagai Kanal Ledakan Amarah
Hudan memperingatkan pemerintah bahwa Gen Z adalah generasi yang unpredictable (sulit diprediksi). Meski saat ini terlihat tenang, akumulasi kekecewaan di media sosial bisa berubah menjadi gerakan massa yang nyata dalam waktu singkat.
Ia merujuk pada maraknya aksi demonstrasi yang belakangan dianggap anak muda sebagai rutinitas (“Demo sudah kayak konser,” selorohnya). Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran politik anak muda meningkat karena informasi yang sangat terbuka di media sosial. “Psikologi massanya sangat cepat tercipta di medsos. Jika pemerintah terus abai terhadap komunikasi publik dan tetap memilih kebijakan yang tidak memihak rakyat, ledakan amarah itu tinggal menunggu waktu,” tambahnya.
Kegagalan Komunikasi Pemerintah
Lebih lanjut, Hudan menilai kementerian terkait, seperti Kemenpora, gagal menjadi jembatan aspirasi bagi Gen Z. Ia melihat belum ada upaya serius seperti town hall meeting atau dialog lintas generasi yang jujur untuk mendengar keresahan pemuda. Pemerintah dianggap masih menggunakan cara-cara lama yang tidak lagi mempan untuk mendekati generasi digital.
Bagi Hudan terpenting sekarang adalah tuntutan nyata atas janji kampanye mengenai pembukaan belasan juta lapangan kerja. Baginya, tahun 2026 akan menjadi tahun di mana Gen Z akan menagih bukti. Jika yang terjadi justru penyempitan lapangan kerja formal dan pengutamaan kelompok tertentu (nepotisme), maka “Tahun Bahaya” 2026 bisa menjadi titik balik di mana generasi muda kehilangan kepercayaan sepenuhnya pada negara.




boomer boomer