Penutupan Selat Hormuz Bakal Jadi ‘Kiamat’ Energi, Krisis 1998 Bisa Terulang

whatsapp image 2026 03 30 at 09.48.31 (1)

JAKARTA – Pengamat ekonomi senior, Dr. Awalil Rizky, memperingatkan pemerintah dan pelaku pasar untuk mewaspadai eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Menurutnya, selat tersebut bukan sekadar jalur perdagangan biasa, melainkan “urat nadi” utama energi dunia yang jika terputus dapat memicu krisis ekonomi yang lebih parah dibandingkan tragedi 1998.

Dalam analisis terbarunya, Awalil menekankan bahwa posisi geografis Selat Hormuz sangat krusial karena menjadi jalur lintasan bagi sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak mentah global.

“Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz sebagai respons atas ketegangan geopolitik, pasokan minyak dunia akan mengalami shock seketika. Harga minyak mentah bisa dengan mudah melesat di atas US$ 100 per barel,” ujar Awalil.

Efek Domino ke Domestik

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak global adalah ancaman ganda (double hit). Sebagai negara importir minyak (net oil importer), kenaikan harga dunia akan langsung menekan kurs Rupiah dan membengkakkan defisit APBN akibat beban subsidi BBM yang tak terkendali.

Awalil menyebutkan bahwa situasi saat ini memiliki risiko yang lebih kompleks dibanding krisis moneter 1998. “Tahun 1998 kita menghadapi krisis finansial regional. Namun saat ini, kita menghadapi krisis multidimensi: mulai dari gangguan rantai pasok global, inflasi tinggi, hingga beban utang negara yang sudah jauh lebih besar,” tambahnya.

Daya Beli Masyarakat Terancam

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penutupan jalur energi ini akan memicu cost-push inflation atau inflasi akibat kenaikan biaya produksi. Kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, dipastikan akan mengerek harga pangan dan transportasi, yang pada akhirnya memukul daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Pemerintah tidak punya banyak pilihan jika skenario terburuk ini terjadi. Pilihannya hanya dua: menaikkan harga BBM secara drastis atau menambah utang untuk menambal subsidi. Keduanya sama-sama pahit bagi ekonomi nasional,” tegasnya.

Ia mendesak pemerintah untuk segera menyiapkan “skenario darurat” (contingency plan) yang konkret, termasuk penguatan cadangan energi nasional dan langkah-langkah perlindungan sosial yang lebih agresif untuk mengantisipasi gejolak ekonomi yang mungkin terjadi di sisa tahun 2025 hingga 202

Selat Hormuz memiliki titik tersempit hanya sekitar 21 mil, namun menjadi satu-satunya akses keluar masuk bagi produsen minyak besar seperti Arab Saudi, Kuwait, dan UEA menuju pasar global.

1 komentar untuk “Penutupan Selat Hormuz Bakal Jadi ‘Kiamat’ Energi, Krisis 1998 Bisa Terulang”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top