JAKARTA – Ada pemandangan tak biasa di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP pada Selasa, 17 Februari 2026. Dua sosok legenda dengan latar belakang kontras duduk bersama dalam satu meja diskusi yang sarat ketegangan intelektual.
Di satu sisi, Abraham Samad, mantan Ketua KPK yang dikenal dingin dan tanpa ampun terhadap koruptor. Di sisi lain, Dedy “Miing” Gumelar, komedian legendaris Bagito yang kini lebih banyak mengasah nalar kritisnya untuk menyuarakan jeritan hati rakyat.
Keduanya tidak sedang membedah naskah lawakan atau berkas perkara usang. Samad dan Miing sedang menyalakan alarm tanda bahaya terhadap “bom waktu” bernama Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah program ambisius pemerintah yang punya misi mulia, namun di mata mereka, menyimpan celah gelap yang mulai diincar oleh para “penyamun” anggaran.
Gizi untuk Rakyat atau Gengsi untuk Kroni?
Miing tampil dengan gaya khasnya: ceplas-ceplos namun menusuk jantung persoalan. Ia membuka tabir keresahan publik yang kian menguat: Benarkah dapur-dapur MBG kini mulai “dikuasai” oleh anak pejabat dan kroni elit politik?
“Jangan sampai niatnya memberi makan rakyat, tapi yang kenyang justru mereka yang sudah punya kuasa,” cetus Miing. Baginya, jika unit penyedia makanan (dapur) dikuasai lingkar kekuasaan, maka narasi pemberdayaan ekonomi lokal hanyalah “lipstik” atau pemanis belaka.
Abraham Samad menyambut keresahan itu dengan bedah hukum yang dingin. Bagi sang mantan “Algojo Kuningan” ini, keterlibatan keluarga pejabat dalam proyek negara bukan sekadar soal etika, melainkan bibit dari Konflik Kepentingan (Conflict of Interest) yang kronis.
“Dalam perspektif anti-korupsi, etika berada di atas hukum. Jika anak atau keluarga pejabat bermain di proyek yang menggunakan APBN, objektivitas pasti runtuh. Di situlah korupsi bermula,” tegas Abraham Samad dengan raut wajah serius.
Memetakan “Jalan Tikus” Korupsi
Abraham Samad merinci tiga titik rawan yang bisa menyulap program sosial ini menjadi “mesin uang” baru bagi elit:
- Monopoli Terselubung: Penunjukan vendor dapur yang hanya berputar di lingkaran “anak emas” penguasa, menutup ruang bagi pengusaha daerah.
- Mark-down Kualitas: Demi mengejar margin keuntungan fantastis, kualitas protein di piring anak-anak sangat rawan disunat.
- Kematian UMKM Lokal: Rakyat kecil hanya menjadi penonton di pinggir jalan, sementara katering besar milik elit melenggang bebas menguasai pasar.
Peringatan Dini untuk Penguasa
Kolaborasi Abraham Samad dan Miing ini menjadi early warning system bagi pemerintah. Miing mewakili suara rakyat yang mulai lelah dengan janji manis, sementara Abraham Samad sesuai kompetennsi mempertegas pentingnya penguatan sistem serta smenuntut transparansi sebagai pra syarat mutlak.
Keduanya bersepakat: tanpa pengawasan ketat dan pembukaan data pemilik vendor (beneficial ownership) kepada publik, program MBG berisiko besar menjadi ladang perburuan rente baru.
“Kita tidak ingin melihat piring anak-anak sekolah menjadi saksi bisu betapa serakahnya elit kita,” tutup Miing dengan nada getir yang tak lagi jenaka.
Bagi mereka, urusan perut rakyat adalah urusan kedaulatan dasar. Jika program sebesar MBG gagal dikelola dengan tangan bersih, maka yang dikorupsi bukan sekadar anggaran triliunan rupiah, melainkan masa depan generasi yang gizinya sudah dicuri sejak dini.
sumber :Dapur MBG Dimiliki Pejabat & Anak Pejabat | #SPEAKUP




kacaw euy mau puasa aja ada bae gebrakannya