JAKARTA — Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menuding bahwa sorotan publik terhadap keabsahan ijazah dirinya dan sang putra, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, merupakan bentuk “operasi politik” dinilai sebagai bentuk refleksi kecemasan internal (freudian slip). Narasi tersebut diduga kuat menyasar dinamika hubungannya dengan Istana dan Presiden Prabowo Subianto.
Pandangan mendalam ini disampaikan oleh jurnalis senior Lukas Luwarso dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP baru baru ini.
Analisis Psikologis dan Sasaran ‘Operasi Politik’
Lukas menyoroti pelabelan “operasi politik” dan “penumpang gelap” yang belakangan kerap dilontarkan Jokowi saat menanggapi gugatan serta perdebatan seputar ijazah. Menurut Lukas, narasi tersebut pada dasarnya tidak lepas dari kegelisahan psikologis terhadap perlindungan politik yang ia harapkan dari rezim baru.
“Dalam konteks psikologi Freudian, ekspresi itu menunjukkan kegundahan yang sulit dikontrol. Secara tidak langsung, tuduhan adanya operasi politik itu diarahkan ke arah Istana atau lingkaran Presiden Prabowo, karena ia merasa sudah membantu memenangkan Prabowo tetapi kini posisi politiknya dan anaknya tetap dipersoalkan,” terang Lukas.
Ia memandang, kegundahan tersebut muncul seiring berubahnya peta kekuatan politik nasional pasca-transisi kepemimpinan.
Strategi Walk the Dog: Pengalihan Masalah Besar
Selain ekspresi kegelisahan internal, Lukas menilai bergulirnya polemik ijazah yang terus dijaga di ruang publik menyerupai strategi komunikasi media “Walk the Dog”—yakni menciptakan atau memanfaatkan isu sampingan untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan yang jauh lebih substansial.
Menurutnya, sorotan intensif pada polemik administrasi ijazah efektif mengalihkan fokus masyarakat dari berbagai krisis mendasar yang tengah melanda Indonesia, seperti kelesuan ekonomi, pelemahan nilai tukar, krisis ekologi karhutla, hingga efektivitas program-program pemerintah yang acak-kadut.
“Dalam dunia politik, ketika pemerintah atau figur politik ingin mengalihkan sorotan publik dari krisis kinerja dan masalah ekonomi besar, mereka akan membiarkan isu-isu emosional seperti ijazah tetap membesar. Publik sibuk berdebat soal itu, sementara persoalan pokok bangsa terabaikan,” jelasnya.
Manuver Pembentukan Basis Politik Baru
Lukas juga menggarisbawahi manuver politik lanjutan keluarga Jokowi melalui penguatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menyebut safari politik dan upaya membangun kembali pengaruh di luar kekuasaan formal merupakan bagian dari strategi pengumpulan logistik dan basis kekuatan baru menghadapi Pemilu 2029.
Namun, strategi ini dinilai makin mempertegas batas persaingan dengan parpol koalisi pendukung Prabowo maupun parpol mapan lainnya, yang pada akhirnya memicu resistensi tersembunyi di DPR.
Lukas menyimpulkan bahwa perdebatan isu ijazah dan manuver politik keluarga Jokowi bukan sekadar polemik administrasi biasa, melainkan cerminan dari perebutan dominasi politik yang belum usai di tingkat elite nasional.
DPR Lobi Makzulkan Gibran? Lukas Luwarso: Dinasti Jokowi Bakal Hancur | #SPEAKUP – YouTube



