Mantan Dubes RI: Sistem Wilayatul Faqih Jadi Kunci Soliditas Iran Hadapi Tekanan Global

whatsapp image 2026 03 11 at 10.19.05 (2)

JAKARTA – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, mengungkapkan bahwa ketahanan nasional Iran dalam menghadapi sanksi ekonomi dan ancaman militer Barat selama puluhan tahun berakar pada model pemerintahan unik mereka, yakni Wilayatul Faqih.

Dalam sesi wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Dian menjelaskan bahwa sistem kepemimpinan ulama ahli fikih ini bukan sekadar struktur politik, melainkan fondasi ideologis yang menyatukan seluruh elemen negara.

“Soliditas Iran itu unik karena mereka memiliki rantai komando yang sangat jelas di bawah Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Ini yang membuat mereka tetap tegak meski dikepung tekanan Amerika Serikat dan sekutunya,” ujar Dian dalam diskusi bertajuk taktik perang Iran tersebut.

Supremasi Kepemimpinan dan Ideologi

Dian menilai, Wilayatul Faqih memberikan legitimasi spiritual sekaligus politik yang kuat bagi pemerintah Iran. Menurutnya, kepatuhan rakyat dan militer kepada pemimpin tertinggi menciptakan stabilitas yang sulit digoyang oleh infiltrasi asing. Hal ini berbeda dengan model demokrasi liberal yang sering kali rentan terhadap faksi-faksi politik yang saling menjatuhkan di tengah krisis.

“Di Iran, keputusan strategis mengenai pertahanan dan kedaulatan negara berada di tangan kepemimpinan yang dianggap memiliki otoritas moral tinggi. Inilah yang membuat kebijakan perlawanan mereka terhadap AS dan Israel bersifat konsisten dan jangka panjang,” tambahnya.

Kemandirian di Tengah Sanksi

Lebih lanjut, wartawan senior yang lama mengamati dinamika Timur Tengah ini menyoroti bagaimana model pemerintahan ini memaksa Iran untuk berinovasi secara mandiri. Dian menyebutkan bahwa doktrin perlawanan yang lahir dari sistem Wilayatul Faqih telah mendorong Iran mencapai kemandirian teknologi militer, mulai dari produksi rudal balistik hingga pesawat nirawak (drone).

Dian juga menyentil posisi negara-negara Arab di kawasan yang menurutnya cenderung pragmatis dan bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat. Sebaliknya, Iran justru membangun “Kedalaman Strategis” melalui jaringan aliansi di kawasan yang setia pada garis perjuangan yang sama.

“Iran adalah aktor rasional. Mereka tahu kapan harus menahan diri dan kapan harus menunjukkan taring. Soliditas internal mereka adalah modal utama yang membuat lawan berpikir dua kali untuk melakukan agresi terbuka,” pungkas Dian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top