JAKARTA – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, mengungkap strategi militer Iran yang membuat Amerika Serikat dan Israel berpikir dua kali untuk melakukan agresi terbuka. Iran disebut tidak lagi menggunakan pola perang konvensional ala Barat, melainkan mengandalkan doktrin “Pertahanan Aktif” dan perang asimetris yang mematikan.
Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Dian menjelaskan bahwa kekuatan Iran terletak pada kemampuannya menciptakan efek gentar melalui tiga pilar utama: kedalaman strategis, kemandirian teknologi, dan penguasaan jalur logistik global.
‘Strategic Depth’: Bertempur di Luar Garis Perbatasan
Pilar pertama yang disoroti Dian adalah konsep Strategic Depth atau kedalaman strategis. Iran secara cerdik membangun jaringan aliansi yang dikenal sebagai Axis of Resistance, yang meliputi Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta berbagai milisi di Irak dan Suriah.
“Iran memiliki filosofi untuk tidak membiarkan perang terjadi di wilayah kedaulatannya sendiri. Melalui jaringan aliansi ini, mereka menciptakan garis pertahanan pertama yang jaraknya ratusan hingga ribuan kilometer dari perbatasan Iran,” ungkap Dian. Strategi ini memaksa lawan untuk menghadapi proksi-proksi tangguh sebelum bisa menyentuh daratan Iran.
Kemandirian Rudal dan ‘Swarm Drones’
Di sisi teknologi, Dian menyebut Iran telah mencapai kemandirian militer yang signifikan meski di tengah kepungan sanksi internasional. Fokus utama Teheran bukan pada jet tempur mahal yang mudah dideteksi radar, melainkan pada rudal balistik dan swarm drones (drone kawanan).
“Mereka sadar tidak bisa mengimbangi keunggulan udara AS dan Israel secara konvensional. Sebagai gantinya, mereka mengembangkan teknologi rudal dan drone yang murah namun presisi dan masif untuk melumpuhkan sistem pertahanan lawan,” tambahnya. Penggunaan drone dalam jumlah besar ini dirancang untuk membuat sistem pertahanan udara musuh kewalahan (overwhelmed).
Selat Hormuz: Kartu Truf Ekonomi Dunia
Selain aspek fisik militer, Iran memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur pipa nadi energi dunia. Dian menilai posisi geopolitik ini adalah “kartu mati” yang bisa dimainkan Iran kapan saja jika konflik meningkat menjadi perang total.
“Kemampuan Iran untuk mengunci Selat Hormuz berarti kemampuan untuk mengguncang ekonomi global secara instan. Ini adalah instrumen politik dan militer yang sangat kuat untuk menekan keterlibatan langsung negara-negara Barat dalam konflik di kawasan,” jelas mantan diplomat senior tersebut.
Dengan kombinasi taktik asimetris ini, Dian menyimpulkan bahwa Iran telah berhasil mengubah paradigma perang di Timur Tengah, beralih dari pamer kekuatan fisik menjadi perang urat syaraf dan ketahanan strategis yang sangat diperhitungkan secara rasional.



