JAKARTA – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, melontarkan kritik tajam terhadap sikap politik negara-negara Arab dalam menanggapi eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menilai, ketergantungan keamanan pada Amerika Serikat dan tren normalisasi dengan Israel telah melemahkan posisi tawar dunia Islam, khususnya dalam isu kemerdekaan Palestina.
Dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Dian menyoroti adanya pergeseran prioritas di antara pemimpin negara-negara Arab yang kini lebih terjebak dalam pragmatisme politik ketimbang solidaritas ideologis.
Antara Ancaman Iran dan Payung Keamanan AS
Dian menjelaskan adanya fenomena di mana sejumlah negara Arab justru melihat Iran sebagai ancaman keamanan yang lebih nyata dibandingkan Israel. Persepsi ini kemudian mendorong mereka untuk mencari perlindungan di bawah payung militer Amerika Serikat.
“Ada dilema besar antara menjaga keamanan nasional dan menunjukkan solidaritas terhadap sesama muslim atau Palestina. Ironisnya, banyak yang akhirnya memilih berlindung ke AS karena menganggap pengaruh Iran di kawasan jauh lebih menakutkan bagi stabilitas kekuasaan mereka,” ungkap Dian.
Dampak Buruk ‘Abraham Accords’
Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah dampak dari Abraham Accords atau normalisasi hubungan diplomatik antara beberapa negara Arab dengan Israel. Menurut Dian, langkah ini secara tidak langsung telah “menikam” perjuangan rakyat Palestina dari belakang.
“Upaya normalisasi ini dipandang sebagai langkah yang sangat melemahkan posisi tawar dunia Islam. Dengan membuka hubungan diplomatik, posisi AS dan Israel di kawasan justru semakin kuat, sementara isu Palestina kian terpinggirkan dari meja perundingan utama,” tegasnya.
Pecahnya Solidaritas Kawasan
Lebih lanjut, mantan diplomat senior ini menilai bahwa keterbelahan sikap di Timur Tengah inilah yang dimanfaatkan oleh kekuatan Barat untuk mempertahankan dominasi mereka. Selama negara-negara Arab tidak memiliki satu suara yang solid dan terus bergantung pada dukungan eksternal, maka stabilitas kawasan yang berdaulat akan sulit tercapai.
Kritik ini menjadi refleksi mendalam bagi publik di Indonesia, mengingat posisi Indonesia yang selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia.



