JAKARTA – Indonesia diingatkan untuk tidak terjebak dalam pragmatisme diplomatik yang dangkal di tengah eskalasi militer yang kian brutal di Timur Tengah. Dr. Dinna Prapto Rahardjo menegaskan bahwa Jakarta harus segera bersikap tegas, tidak boleh sikap mendua terhadap Israel. Indonesia harus konsisten sebagai “Pejuang Nurani” di panggung global.
Pernyataan ini muncul sebagai respon atas upaya-upaya “diplomasi bawah tanah” yang dianggap tidak sejalan dengan amanat konstitusi dan keadilan kemanusiaan universal.
Berhenti Bermain di Dua Kaki
Menurut Dr. Dinna, posisi Indonesia yang mencoba tetap manis di hadapan blok Barat sambil menyuarakan dukungan untuk Palestina sudah tidak relevan lagi. Dalam situasi di mana hukum internasional dilangkahi dan infrastruktur sipil dihancurkan, sikap netral yang pasif justru merupakan bentuk keberpihakan pada penindas.
“Indonesia tidak boleh lagi mendua dengan Israel, baik melalui jalur ekonomi maupun kerja sama terselubung lainnya. Diplomasi kita harus memiliki ‘jangkar moral’ yang jelas: nurani harus berada di atas transaksi,” tegasnya.
Keluar dari “Balance of Power” (BOP)
Lebih jauh lagi, Dr. Dinna menyerukan agar Indonesia berani keluar dari jeratan Balance of Power (BOP) atau perimbangan kekuatan tradisional yang hanya memandang negara sebagai angka dan kekuatan militer.
Ia menilai bahwa terjebak dalam kalkulasi BOP hanya akan menjadikan Indonesia pion dalam persaingan antara kekuatan besar seperti AS dan sekutunya. Sebaliknya, Indonesia harus menjadi pionir dalam membentuk tatanan dunia baru yang berbasis pada keamanan insani (human security).
“Jika kita hanya sibuk menghitung perimbangan kekuatan (BOP), kita akan kehilangan kemanusiaan kita. Indonesia harus menjadi Pejuang Nurani yang berani berkata ‘cukup’ terhadap agresi, tanpa takut dikucilkan oleh kekuatan besar,” ujar Dr. Dinna.
Ujian Nyata Kepemimpinan Global RI
Laporan ini menekankan bahwa keberanian untuk memutus segala bentuk ambiguitas terhadap Israel adalah kunci kredibilitas Indonesia jika ingin diakui sebagai pemimpin negara-negara Selatan (Global South). Menjadi Pejuang Nurani berarti:
- Ketegasan Prinsip: Menutup segala peluang normalisasi selama pendudukan dan agresi terus berlangsung.
- Vokalis Kemanusiaan: Memimpin koalisi internasional untuk menekan penghentian total kebijakan “Zaman Batu” Trump di kawasan.
- Diplomasi Berbasis Nilai: Memastikan bahwa kebijakan luar negeri didorong oleh nilai-nilai pembukaan UUD 1945, bukan sekadar ketakutan akan sanksi ekonomi.



