Pengamat Peringatkan Bahaya Benturan Tiga Ideologi Apokaliptik

whatsapp image 2026 04 14 at 14.52.42 (1)

JAKARTA – Kawasan Timur Tengah kini berada dalam cengkeraman “Trinitas Maut” yang mengancam stabilitas global. Wartawan senior sekaligus pengamat Timur Tengah, Irfan Maulana, dalam diskusinya di kanal Abraham Samad SPEAK UP, mengungkapkan bahwa eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan lagi sekadar perang konvensional, melainkan benturan tiga ideologi apokaliptik yang sangat berbahaya.

1. Mesianisme Zionis: Obsesi Bait Suci

Irfan Maulana menyoroti bahwa di dalam internal Israel, terdapat faksi Zionis radikal yang tidak lagi menyembunyikan ambisinya. Bagi mereka, konflik ini adalah instrumen untuk mewujudkan Greater Israel. “Targetnya adalah pembangunan kembali Temple of Solomon di Yerusalem Timur. Dalam pandangan mereka, ini adalah nubuat yang harus digenapi meski harus menghambat solusi dua negara (two-state solution),” ujar Irfan.

2. Evangelikal Zionis AS: Armagedon sebagai Kebijakan

Di sisi Washington, Irfan membedah peran faksi Christian Evangelical Zionist yang mengepung lingkaran kekuasaan Donald Trump. Nama-nama seperti menteri pertahanan pilihan Trump, Pete Hegseth, disebut sebagai penganut garis keras yang melihat perang di Timur Tengah sebagai “pemicu” Armagedon.

“Vatikan, melalui Paus Leo XIV, berang karena kelompok ini membawa-bawa nama Tuhan dalam agresi militer. Bagi mereka, mempercepat konflik adalah upaya menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kali,” tegas Irfan Maulana.

3. Militansi Teheran: Doktrin Imam Mahdi

Melengkapi segitiga maut tersebut, Irfan memaparkan posisi Iran yang juga memiliki landasan teologis serupa. Rezim di Teheran meyakini bahwa konfrontasi total ini adalah bagian dari tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi. “Iran memiliki doktrin bahwa kemenangan akhir akan datang melalui perang penghabisan. Hal ini menciptakan militansi yang sulit ditembus oleh diplomasi biasa,” tambahnya.

Diplomasi “Cuan” Donald Trump

Menariknya, Irfan Maulana menilai Donald Trump sendiri sebenarnya bukan sosok ideologis, melainkan kapitalis transaksional. Namun, Trump memanfaatkan kelompok evangelikal ini demi dukungan politik. Sementara di belakang layar, Trump tetap mengejar motif ekonomi (“cuan”), seperti proyek pembangunan properti di Gaza yang dipersiapkan oleh menantunya, Jared KDunia dalam Sandera

Dalam analisisnya, Irfan Maulana memperingatkan bahwa selama para pemimpin ini masih disandera oleh delusi apokaliptik, ruang negosiasi akan tetap buntu. “Kita sedang melihat segelintir kelompok yang ingin perang terus terjadi demi mencapai tujuan ideologis mereka, sementara masyarakat dunia dipaksa menanggung risikonya,” tutup Irfan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top