JAKARTA — Tekanan berat yang dialami nilai tukar rupiah hingga terperosok terhadap hampir seluruh mata uang asing tidak lepas dari hantaman badai ekonomi global. Faktor eksternal (the global drivers) saat ini menjadi motor utama yang mendikte kejatuhan mata uang Garuda, memicu pelarian modal besar-besaran dari pasar keuangan domestik.
Dalam analisisnya di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, pengamat ekonomi Yanuar Rizky mengungkapkan bahwa lanskap makroekonomi global sedang berpihak pada penguatan dolar Amerika Serikat (AS), yang secara mekanis menggilas mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Tiga Motor Utama Penekan Rupiah dari Global
Menurut data ekonomi terkini, terdapat tiga faktor eksternal utama yang saling berkelindan memperlemah posisi rupiah:
- Suku Bunga The Fed yang “Higher for Longer”: Bank sentral AS, Federal Reserve, keras kepala mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan pasar. Kebijakan ini magnet kuat yang menarik dana-dana asing (capital outflow) keluar dari Indonesia untuk kembali masuk ke pasar keuangan AS yang menawarkan imbal hasil (yield) tinggi dengan risiko lebih rendah.
- Lonjakan Indeks Dolar AS (DXY): Keperkasaan dolar AS tecermin dari melonjaknya US Dollar Index (DXY)—indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Ketika DXY perkasa, seluruh mata uang global, mulai dari Euro, Yen, hingga Rupiah, secara otomatis mengalami depresiasi berjamaah.
- Eskalasi Geopolitik Global: Ketegangan politik dan konflik yang berkecamuk di berbagai belahan dunia memicu kepanikan pasar. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor global cenderung melakukan aksi flight to safety, yaitu memindahkan aset mereka ke instrumen aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas, mengabaikan aset-aset di negara berkembang yang dianggap berisiko tinggi.
“Kita Tidak Bisa Cuma Menyalahkan Faktor Global”
Yanuar Rizky mengingatkan bahwa meskipun faktor eksternal ini bersifat masif dan berada di luar kendali pemerintah Indonesia, dampaknya menjadi berkali-kali lipat lebih merusak karena rapuhnya benteng pertahanan ekonomi domestik.
“Faktor global seperti kebijakan The Fed dan geopolitik itu ibarat hujan badai di luar rumah. Pertanyaannya, apakah atap rumah ekonomi kita bocor? Masalahnya, pasokan valas di dalam negeri kita tipis, sehingga begitu diguncang sentimen global, rupiah langsung terjerembap,” ujar Yanuar analogis.
Situasi eksternal yang tidak ramah ini diproyeksi masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Jika otoritas moneter dan pemerintah tidak segera membenahi fundamental ekonomi di dalam negeri, rupiah dikhawatirkan akan terus mencari level terendah baru yang semakin membahayakan stabilitas ekonomi nasional.



