JAKARTA – Budayawan sekaligus pengamat politik senior, Erros Djarot, melontarkan kritik tajam terhadap situasi politik terkini pasca-Pemilu. Ia memperingatkan bahwa presiden terpilih, Prabowo Subianto, saat ini tengah berada dalam jebakan ilusi kekuasaan akibat dikelilingi oleh laporan-laporan manis yang menidurkan sensitivitas politiknya.
Erros menilai ada upaya sistematis dari lingkaran koalisi dan para pembisik untuk membuat Prabowo merasa kondisi negara aman terkendali, padahal gejolak di akar rumput mulai memanas.
“Prabowo saat ini sedang dininabobokan oleh kenyamanan semu. Ia sengaja diisolasi dari realitas oleh orang-orang di sekitarnya yang berkepentingan menjaga status quo,” ujar Erros dalam wawancara di kanal YouTube #ABRAHAM SAMAD SPEAKUP.
Menurut jurnalisme investigatif dan analisis peta politik nasional, taktik “meninabobokan” pemimpin baru ini merupakan pola usang yang kerap digunakan oligarki untuk menjinakkan figur bertenaga kuat. Prabowo yang dahulu dikenal meledak-ledak dan tegas, kini dinilai mulai berkompromi dengan pola-pola politik transaksional.
Isolasi Informasi dan Ancaman Gerakan Massa
Erros menegaskan bahwa dampak terbesar dari ilusi kekuasaan ini adalah terputusnya koneksi antara elite istana dengan penderitaan riil masyarakat. Di saat pemerintah merasa di atas angin karena angka survei dan legitimasi formal, gelombang protes mahasiswa justru terus merangkak naik akibat impitan ekonomi dan mahalnya biaya hidup.
“Sejarah kita mencatat, jika penguasa asyik tidur saat rakyatnya berteriak, maka jalanan yang akan menjadi ruang sidang. Jangan remehkan gerakan mahasiswa yang mulai membesar ini,” tegas Erros.
Kritik ini menjadi alarm keras bagi rezim baru. Erros mengingatkan, jika Prabowo tidak segera ‘terbangun’ dari dominasi informasi sepihak para pembisiknya, legitimasi pemerintahannya dipertaruhkan bahkan sebelum program kerja utamanya berjalan efektif. Belajar dari runtuhnya rezim-rezim terdahulu, koalisi gemuk yang mengitari kekuasaan hari ini dinilai sangat rapuh dan siap berbalik arah begitu terjadi krisis besar.



