Adu Strategi Perang Iran vs Amerika – Israel

gemini generated image 48uvl148uvl148uv

JAKARTA — Karakteristik pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat-Israel diproyeksikan tidak akan lagi didominasi oleh konfrontasi militer konvensional secara terbuka. Kemajuan teknologi informasi dan ruang siber telah menggeser lanskap pertempuran menuju era baru yang berbasis pada penguasaan sistem informasi terpadu.

Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, PhD, mengungkapkan bahwa jika eskalasi di Timur Tengah terus berlanjut, orientasi taktis kedua belah pihak akan bergeser sepenuhnya pada doktrin militer modern.

“Konfliknya nanti berubah menjadi konflik yang namanya istilah militernya C6ISR,” ujar Wibawanto dalam pemaparannya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.

Wibawanto menjelaskan bahwa C6ISR merupakan akronim dari penguasaan lini Command (komando), Control (pengendalian), Computer (komputer), Communication (komunikasi), Cyber (siber), dan Combat System (sistem tempur), yang dipadukan dengan Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (intelijen, pengawasan, dan pengintaian).

Melalui doktrin baru ini, perang tidak lagi menunggu letusan meriam di medan terbuka, melainkan sudah terjadi setiap hari di ruang-ruang digital. Fokus utama dari pergeseran karakteristik ini adalah kemampuan untuk melumpuhkan rantai komando dan pengendalian lawan secara senyap, serta merusak jaringan komunikasi militer maupun sipil.

“Perang komunikasi ini untuk mempengaruhi opini, baik yang di luar pemerintah, rakyat di dalam, hingga militernya,” tambah Wibawanto.

Salah satu medan tempur utama dalam Pergeseran Karakteristik Perang ke Depan ini adalah pemanfaatan ruang siber secara agresif. Serangan siber tidak hanya menyasar situs pemerintahan, melainkan digunakan untuk meretas dan memetakan titik lemah sistem tempur musuh sebanyak-banyaknya, menetapkan target intelijen, hingga melakukan infiltrasi ke jaringan internal kelompok proksi. Metode ini, menurut Wibawanto, telah berulang kali digunakan oleh intelijen Israel untuk menerobos jaringan komunikasi Hizbullah hingga melacak posisi para pimpinan tinggi Iran.

Selain di ruang digital, karakteristik perang masa depan ini akan diwarnai oleh kombinasi serangan ireguler, taktik sabotase maritim—seperti penutupan jalur strategis di Selat Hormuz—hingga perang asimetris yang melibatkan jaringan non-negara.

Pergeseran menuju Perang C6ISR ini disinyalir membuat batas antara situasi “damai” dan “perang” menjadi kabur. Negara-negara yang bertikai dituntut memiliki ketahanan siber dan teknologi tingkat tinggi, karena kelalaian kecil dalam mengamankan sistem informasi dapat berakibat fatal pada runtuhnya pertahanan fisik sebuah negara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top