JAKARTA — Momen transisi kekuasaan dari satu rezim ke rezim berikutnya selalu menyisakan guncangan pada struktur hubungan patron-klien di tingkat elit maupun akar rumput. Fenomena ini menjadi sorotan sosiolog Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, saat menguliti dinamika sosial-politik yang mengiringi awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam keterangannya pada dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Sulfikar menjelaskan bahwa transisi kepemimpinan nasional tidak hanya mengubah susunan pejabat di jajaran kabinet, tetapi juga membongkar ulang peta patronase politik yang telah mengakar selama era kepemimpinan sebelumnya.
Pergeseran Bandul Patronase dan Disorientasi Relawan
Menurut Sulfikar, keterbelahan dan gesekan informasi yang muncul di ruang publik—seperti wacana spekulatif mengenai perpecahan elit—merupakan manifestasi dari retaknya aliansi patron-klien lama yang belum menemukan bentuk idealnya di bawah naungan penguasa baru.
“Ketika terjadi transisi kekuasaan, pola patronase yang selama ini menopang kelompok-kelompok tertentu—termasuk organisasi relawan—otomatis mengalami disorientasi. Mereka kehilangan akses langsung ke figur patron utamanya dalam struktur kepemimpinan aktif,” ujar Sulfikar.
Kondisi tersebut kerap melahirkan kepanikan politik (political panic) di kalangan loyalis atau elemen pendukung lama. Pernyataan-pernyataan kontroversial yang dilemparkan ke publik oleh figur relawan dinilai sebagai bentuk manuver bertahan hidup (survival mechanism) agar tetap diperhitungkan dan relevan di mata penguasa yang baru menjabat.
Rentannya Oligarki dan Risiko Kekecewaan Publik
Sosiologi politik memandang bahwa hubungan patron-klien berbasis pada pertukaran sumber daya dan perlindungan politik. Ketika transisi terjadi, redistribusi akses kekuasaan tidak selalu berjalan mulus bagi semua kelompok faksi.
Sulfikar menggarisbawahi bahwa ketegangan internal antara kelompok loyalis kepemimpinan lama dan faksi penguasa baru berisiko merembet pada stabilitas sosial jika elit tidak mampu mengelola komunikasi politik secara dewasa.
“Ketika elit lebih sibuk berspekulasi dan bermanuver di saat masyarakat berjuang menghadapi beban ekonomi, yang terjadi adalah lahirnya social cynicism—kekecewaan dan ketidakpercayaan publik yang melebar terhadap elit penguasa,” tegasnya.
Dinamika Akar Rumput dan Implikasi Demokrasi
Kerentanan sistem patron-klien di Indonesia terletak pada lemahnya kelembagaan berbasis ideologi, sehingga loyalitas pendukung lebih banyak tersangkut pada figur individu (patron). Akibatnya, perubahan puncak kepemimpinan nasional memicu guncangan beruntun hingga ke tingkat massa (grassroot).
Sulfikar menyimpulkan bahwa konsolidasi pemerintahan baru seyogianya diarahkan pada penguatan tata kelola publik berbasis teknokrasi, bukan lagi mengandalkan kompromi bagi-bagi pengaruh dalam jaringan patron-klien yang rentan memicu friksi internal secara terus-menerus



