JAKARTA — Wacana spekulatif mengenai potensi guncangan kepemimpinan sebelum 2029 yang dilontarkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, memicu kritik tajam dari kalangan akademisi. Sosiolog Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, menilai narasi tersebut bukan sebatas prediksi independen, melainkan bentuk manuver framing politik di tengah transisi kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Sulfikar menekankan bahwa kedudukan Budi Arie sebagai pimpinan organisasi relawan membuat setiap ucapannya berpotensi mengganggu stabilitas politik.
“Budi Arie ini kan bukan akademisi atau pengamat independen. Ketika seorang pimpinan organisasi politik melempar narasi spekulatif seperti itu ke publik, ini bisa dibaca sebagai taktik test the water untuk mengukur ketahanan konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo sekaligus melihat reaksi publik,” kata Sulfikar.
Sulfikar menduga wacana ketidakstabilan tersebut berakar dari kepanikan terselubung faksi elit lama yang khawatir kehilangan porsi pengaruh seiring menguatnya konsolidasi kekuasaan di lingkaran Prabowo. Risikonya, narasi semacam ini berpotensi memicu politik adu domba antara kelompok relawan dan elemen pendukung pemerintah.
Di sisi lain, Sulfikar mengkritik keras pembingkaian opini yang menuding kritik masyarakat sebagai gerakan makar atau ancaman terhadap rezim. Menurut dia, ketegangan sosial yang muncul di akar rumput murni disebabkan oleh persoalan teknokratis dan tekanan ekonomi, bukan konspirasi elit.
“Kritikan masyarakat atau diskursus publik soal kinerja pemerintah itu bukan upaya makar. Pengamat juga tidak sedang memicu inflasi wacana. Kalau ada anomali sosial atau kegelisahan di bawah, itu adalah respons atas kondisi ekonomi dan kebijakan publik, bukan gerakan tiba-tiba untuk menjatuhkan rezim,” tegas Sulfikar.
Ia mengingatkan bahwa pergeseran pola patronase dari era Joko Widodo ke Presiden Prabowo memperlihatkan kerentanan pada kelompok relawan yang belum sepenuhnya beradaptasi. Ketika perhatian elit tersedot pada spekulasi politik 2029, risiko keterbelahan antara masyarakat dan penguasa kian melebar.
“Ketika elit lebih sibuk berspekulasi dan bermanuver untuk agenda 2029 di saat masyarakat berjuang menghadapi beban ekonomi, yang terjadi adalah lahirnya social cynicism—kekecewaan dan ketidakpercayaan publik yang melebar terhadap elit penguasa,” ujarnya.
Sulfikar menyarankan agar Presiden Prabowo berfokus menuntaskan agenda strategis nasional serta meredam gejolak ekonomi warga ketimbang terdistraksi oleh dinamika politik internal koalisi.



