Anthony, Ekonom Senior : Situasi Ekonomi Sekarang Bisa Lebih Berbahaya Dari Krisis Moneter 1998

whatsapp image 2025 12 10 at 12.10.29

JAKARTA — Ekonom senior sekaligus Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, melontarkan peringatan keras terkait kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus menekan dan kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ia menilai situasi ekonomi nasional saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan krisis moneter 1998, dengan ancaman nyata langsung menyasar kelompok masyarakat kelas bawah.

Hal tersebut diungkapkan Anthony dalam perbincangan mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang dipantau di Jakarta, Jumat (30/10).

“Kalau kita di kelas menengah atas, harga mau naik 10 persen atau 20 persen mungkin tidak menjadi masalah yang berarti. Tapi bagi masyarakat bawah, ini masalah sangat besar sekali, bisa-bisa tidak makan. Berbahaya sekali,” ujar Anthony.

Tekanan Rupiah dan Ancaman Capital Outflow

Anthony memaparkan, tekanan terhadap rupiah yang terus bergerak mendekati level Rp18.180 per dolar AS tidak lepas dari sentimen negatif di pasar keuangan global, khususnya peringatan keras dari lembaga penilai internasional Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kebijakan dan penilaian tersebut memicu aksi jual asing (capital outflow) secara masif di bursa domestik yang telah mencapai belasan triliun rupiah.

Menurutnya, langkah Bank Indonesia (BI) yang selama ini mengandalkan intervensi menggunakan cadangan devisa dan penerbitan utang luar negeri—melalui Surat Berharga Negara (SBN)—memiliki batas ketahanan.

“Begitu asing tidak membeli lagi, rupiah jatuhnya lebih cepat. Cadangan devisa kita kuat, tapi utang luar negeri kita jauh lebih besar. Kalau penarikan dana asing ini menjalar ke SBN, kita tidak akan kuat menahan intervensi,” tegasnya.

Ia bahkan membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998 silam. Menurutnya, krisis tahun 1998 didominasi oleh masalah utang swasta, sementara negara saat ini justru menghadapi porsi utang negara dan SBN yang besar dan sangat liquid diperdagangkan di pasar global. Hal ini membuat potensi pelarian modal (capital flight) dapat terjadi jauh lebih cepat dan sistemik jika kepercayaan pasar tidak segera dipulihkan.

Sanggahan Isu “Tidak Berdampak pada Rakyat Kecil”

Menanggapi narasi yang menyebutkan bahwa kejatuhan IHSG dan pelemahan rupiah tidak berdampak langsung bagi masyarakat di pedesaan atau kelas bawah karena tidak menggunakan dolar, Anthony menyebut pandangan tersebut sebagai sebuah kekeliruan besar.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah beririsan langsung dengan sektor riil, mulai dari kenaikan biaya impor bahan baku, lonjakan biaya produksi industri, hingga dampak ganda (double impact) dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi fiskal negara juga tertekan karena beban subsidi energi yang membengkak, yang pada akhirnya memicu pembatasan distribusi dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat kelas bawah, seperti pengemudi ojek online dan pelaku usaha mikro.

“Berapa banyak kelompok masyarakat rentan kita? Sekitar 64 persen atau setara 193 juta penduduk kita berada dalam kategori menengah ke bawah yang sangat rentan terhadap guncangan harga dan kenaikan suku bunga,” tambahnya.

Tuntutan Evaluasi dan Koreksi Diri

Sebagai langkah antisipasi agar krisis ekonomi tidak bermutasi menjadi krisis sosial seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa akibat lonjakan biaya hidup (living cost), Anthony mendesak pemerintah agar bersikap objektif dan jujur terhadap kondisi riil di lapangan. Ia menyarankan pemerintah untuk tidak terjebak pada narasi konfrontasi eksternal atau mencari kambing hitam, melainkan melakukan pembenahan tata kelola pasar—termasuk penegakan hukum yang tegas terhadap praktik manipulasi pasar seperti price fixing dan saham gorengan.

“Pemerintah harus benar-benar mengambil kebijakan terbaik yang berpihak kepada masyarakat banyak. Jangan sampai kita termakan oleh kepentingan kelompok tertentu yang ingin terus menikmati kekuasaan di tengah penderitaan rakyat,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top