dok ist
JAKARTA — Kondisi keuangan negara kini resmi masuk zona merah. Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kian tercekik oleh tumpukan utang dan beban bunganya. Peringatan keras ini ditiupkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Hamid Paddu, M.A., dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube KOPEL TV baru-baru ini.
Menurut Prof. Hamid, ruang fiskal Indonesia sudah sangat sempit dan tidak sehat. Negara terjebak dalam lingkaran setan gali lubang tutup lubang—menarik utang baru hanya untuk membayar cicilan utang lama.
“Ruang gerak APBN kita makin terkunci. Ketika pendapatan habis hanya untuk bayar bunga utang dan proyek yang tidak produktif, yang paling dikorbankan adalah belanja publik untuk rakyat,” tegas Prof. Hamid dalam wawancara tersebut.
3 Alarm Bahaya Fiskal Tercekik:
- Pembangunan Sosial Tercekik: Anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan subsidi rakyat tergerus demi mengamankan kewajiban pembayaran utang.
- Proyek Mercusuar Membebankan: Alokasi APBN habis disedot proyek jangka panjang yang lambat balik modal dan minim dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
- Ancaman Kebangkrutan Fiskal: Kenaikan penerimaan pajak tidak mampu mengejar pembengkakan belanja dan risiko guncangan nilai tukar global.
Prof. Hamid mendesak pemerintah segera menghentikan kebiasaan belanja yang tidak prioritas dan mendisiplinkan tata kelola keuangan sebelum daya tahan ekonomi nasional benar-benar ambruk.
“Jika reformasi fiskal radikal tidak dilakukan sekarang, rakyatlah yang harus membayar mahal lewat lonjakan pajak dan kelangkaan fasilitas dasar,” pungkasnya.




darknet marketplace https://thedarknetmarketlinks.com