Berhenti Merawat Mitos Orang Desa Tidak Terpengaruh Dollar AS

whatsapp image 2026 05 19 at 10.09.43 (2)

JAKARTA — Klaim sekelompok elite politik yang menyebut masyarakat pedesaan kebal terhadap fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat dinilai sebagai kebohongan publik yang menyesatkan. Realitas di lapangan menunjukkan, jatuhnya nilai tukar Rupiah justru memukul langsung urat nadi perekonomian wong cilik di pelosok desa.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik yang membedah sengkarut ekonomi dan politik nasional baru-baru ini. Pengamat sosial-politik sekaligus akademisi, Ubedilah Badrun, secara tajam mendekonstruksi mitos keliru yang sengaja diembuskan untuk meninabobokan masyarakat bawah.

Ilusi “Bebas Dolar” di Sektor Agraris

Selama ini, narasi yang dibangun di ruang-ruang seminar dan panggung politik hambar cenderung menyederhanakan masalah: karena orang desa tidak bertransaksi menggunakan dolar, mereka dianggap aman dari krisis eksternal.

Namun, jurnalisme lapangan membuktikan sebaliknya. Sektor hulu pertanian dan peternakan di pedesaan—yang menjadi penyokong hidup mayoritas warga desa—justru sangat bergantung pada komponen impor.

  • Ketergantungan Input Produksi: Bahan baku pupuk non-subsidi, komponen pakan ternak, hingga suku cadang mesin penggilingan padi dipengaruhi langsung oleh harga pasar global yang dipatok dengan dolar.
  • Efek Domino Harga: Begitu Rupiah keok terhadap dolar, biaya produksi petani meroket. Di sisi lain, harga jual panen mereka kerap ditekan oleh permainan spekulan, memaksa petani menanggung kerugian berlipat.
  • Daya Beli Ambruk: Saat biaya produksi naik, harga barang konsumsi di warung-warung desa ikut terkerek naik. Ironisnya, pendapatan masyarakat desa cenderung stagnan atau bahkan turun.

Kebijakan Elite yang Merusak

Fakta ini menegaskan bahwa kemiskinan struktural di pedesaan bukan terjadi secara alami, melainkan akibat dari kegagalan makroekonomi dan ketidakberpihakan kebijakan pusat.

Alih-alih memperkuat kedaulatan pangan dengan menekan ketergantungan impor, para elite politik dinilai lebih sibuk memoles citra lewat kebijakan karitatif seperti bantuan sosial (bansos) yang bersifat sementara. Bansos dituding hanya menjadi peredam kejut sesaat untuk menyembunyikan borok struktural yang kian menganga.

Menjauhkan isu pelemahan Rupiah dari ruang kesadaran masyarakat desa adalah taktik politik yang usang. Selama struktur ekonomi nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri, maka selama itu pula jeritan akibat lonjakan dolar akan terdengar paling nyaring di dapur-dapur masyarakat pedesaan, bukan di rumah mewah para elite politik di ibu kota.

1 komentar untuk “Berhenti Merawat Mitos Orang Desa Tidak Terpengaruh Dollar AS”

  1. iya bener orang desa ga pake dollar, cuman make rupiah yang 17.700 itu setara dollar, artinya 17.700 rupiah kita cuman seharga SATU dollar aja

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top