Potret Buram Rupiah : Hanya Urutan 6 di ASEAN, Bahkan Kalah Sama Filipina

whatsapp image 2026 05 19 at 12.58.50 (2)

JAKARTA — Narasi optimistis yang kerap digaungkan dari balik tembok Istana mengenai ketahanan ekonomi domestik kembali membentur dinding realitas yang keras. Di tengah klaim bahwa ekonomi Indonesia kokoh dan masyarakat bawah “kebal” terhadap gejolak global, data fundamental justru menunjukkan posisi mata uang Garuda yang kian mengkhawatirkan di kancah regional.

Pengamat kebijakan publik yang juga aktivis anti korupsi, Syamsuddin Alimsyah, kembali melayangkan kritik tajam lewat kanal YouTube Asanesia TV. Dengan menyandarkan argumennya pada data empiris pergerakan nilai tukar, ia membongkar fakta pahit: kekuatan mata uang Rupiah kini terjembab di urutan ke-11 di tingkat Asia dan hanya mampu bertengger di peringkat ke-6 di kawasan ASEAN.

Rapor merah ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa posisi nilai tukar Indonesia berada dalam kondisi yang sangat rentan di bawah bayang-bayang hegemoni Dollar AS.

whatsapp image 2026 05 19 at 10.33.03 (1)

Kalah Saing di Rumah Sendiri (Skala ASEAN)

Peringkat ke-6 di Asia Tenggara (ASEAN) menunjukkan bahwa Rupiah bahkan tidak mampu mendominasi di lingkungannya sendiri. Posisi Indonesia berada di bawah negara-negara tetangga yang secara agresif mampu menjaga stabilitas mata uang mereka.

Di atas kertas, posisi teratas regional masih dicengkeram kuat oleh Dollar Singapura ($SGD$), diikuti oleh Ringgit Malaysia ($MYR$), Baht Thailand ($THB$), Peso Filipina ($PHP$), dan Dong Vietnam ($VND$). Indonesia hanya unggul dari negara-negara dengan skala ekonomi yang jauh lebih kecil seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.

“Ini adalah alarm keras bagi tim ekonomi pemerintah. Kita selalu mengklaim sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN secara Produk Domestik Bruto ($PDB$). Namun, saat melihat daya saing dan kekuatan mata uang, kita justru tercecer di urutan ke-6. Ini menunjukkan ada masalah struktural yang belum diselesaikan,” ungkap Syamsuddin Alimsyah.

Mengapa Peringkat Rupiah Tercecer?

Sementara itu berdasarkan penelusuran data menyebutkan terlemparnya Rupiah ke urutan ke-11 di Asia—di bawah raksasa seperti Yen Jepang, Yuan China, Dollar Hong Kong, hingga Rupee India—disebabkan oleh beberapa faktor krusial yang terus membebani mata uang domestik:

  • Defisit Neraca Jasa yang Kronis: Walau neraca perdagangan barang kerap surplus, Indonesia masih sangat bergantung pada jasa asing (seperti transportasi laut dan logistik internasional), yang memaksa dollar terus mengalir keluar negeri.
  • Ketergantungan pada Hot Money: Pasar keuangan Indonesia masih sangat sensitif terhadap arus modal asing jangka pendek di pasar saham dan obligasi. Begitu suku bunga Bank Sentral AS ($The\ Fed$) naik, modal tersebut langsung kabur (capital outflow), meninggalkan Rupiah yang limbung.
  • Tingginya Beban Utang Luar Negeri: Pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri—baik sektor pemerintah maupun swasta—membutuhkan pasokan dollar yang masif setiap tahunnya, yang secara konstan menekan posisi Rupiah.

Dampak Nyata: Rakyat Kecil yang Menanggung Beban

Syamsuddin menegaskan bahwa peringkat ke-6 di ASEAN dan ke-11 di Asia ini bukan sekadar deretan angka mati di atas meja para makelar saham. Angka ini memiliki korelasi langsung dengan daya beli masyarakat di pedesaan.

Sebagai mata uang yang posisinya lemah di Asia, Rupiah menjadi sangat rapuh saat harus berhadapan dengan biaya impor komoditas hulu pertanian dan pangan global. Ketika posisi mata uang kita lemah dibandingkan negara tetangga, maka biaya untuk mendatangkan bahan baku pupuk, kedelai, hingga gandum menjadi jauh lebih mahal bagi Indonesia ketimbang bagi Malaysia atau Thailand.

Hentikan Ilusi Politik, Hadapi Data

Data regional ini sekaligus meruntuhkan logika politik Istana yang selama ini mencoba meminimalkan dampak depresiasi mata uang. Fakta bahwa Rupiah berada di papan tengah ASEAN menunjukkan bahwa fondasi ekonomi kita memerlukan proteksi dan intervensi yang jauh lebih agresif, bukan sekadar retorika penenang.

Pemerintah dan Bank Indonesia didesak untuk segera melakukan langkah konkret: mempercepat hilirisasi yang menghasilkan devisa kuat, memperluas implementasi Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction), serta memberikan jaring pengaman yang konkret bagi sektor pertanian domestik.

Selama posisi Rupiah masih betah di peringkat bawah regional, badai Dollar akan selalu menjadi momok menakutkan yang siap menggasak isi dompet masyarakat hingga ke pelosok negeri. Sudah saatnya pengambil kebijakan berhenti memproduksi ilusi dan mulai menghadapi realitas data yang ada.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top