Ketg : Medcom. id (ist)
PARIS — Gelombang aksi unjuk rasa besar-besaran yang melanda berbagai kota di Prancis terus berlanjyut dengan kerusuhan meluas dan bentrokan sengit dengan aparat keamanan, serta aksi penjarahan toko secara masif. Aksi yang awalnya digerakkan oleh tuntutan perbaikan fasilitas pendidikan dan protes kenaikan biaya hidup tersebut berubah menjadi kekacauan ekstrem di sejumlah wilayah strategis, termasuk Paris, Lyon, Marseille, dan Limoges.
Hingga saat ini, Kementerian Dalam Negeri Prancis sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber mengonfirmasi bahwa sedikitnya 2.400 orang telah ditahan secara nasional, dengan lebih dari 850 penangkapan terjadi di wilayah ibu kota.
1. Kronologi & Pemicu: Dari Protes Pelajar Hingga Isu Biaya Hidup
Gerakan protes ini berawal dari aksi mogok dan pemblokiran sekolah oleh para pelajar menengah yang mengeluhkan krisis fasilitas pendidikan, kelas yang terlalu padat, serta kekurangan tenaga pengajar. Namun, situasi dengan cepat meluas setelah serikat pekerja (CGT), aktivis sosial, dan elemen gerakan Rompi Kuning (Gilets Jaunes) turut bergabung.
Massa yang diperkirakan mencapai 550.000 hingga 800.000 orang turun ke jalan menyuarakan kemarahan atas:
- Kenaikan inflasi dan beban biaya hidup rumah tangga yang kian meroket.
- Penurunan daya beli masyarakat serta tuntutan kenaikan upah minimum.
- Rencana pemangkasan anggaran publik di tengah ketidakpastian politik nasional.
2. Esalasi Kekerasan dan Penjarahan di Berbagai Kota
Meskipun sebagian besar demonstran beraksi secara damai, kelompok-kelompok ekstrem bertopeng serta penjarah oportunis memanfaatkan kerumunan massa untuk memicu perusakan:
- Paris: Kawasan Place de la République dan pusat perbelanjaan Les Halles menjadi medan bentrokan berat. Puluhan gerai ritel busana, barang elektronik, hingga supermarket dijarah. Kaca-kaca toko dipecahkan, barikade dibakar, dan sepeda listrik dihancurkan di tengah jalan. Monumen bersejarah Monument à la République juga tak luput dari aksi vandalisme.
- Limoges: Balai Kota Limoges yang dibangun pada abad ke-19 mengalami kebakaran hebat akibat lemparan molotov, menyebabkan struktur atap bangunan bersejarah tersebut runtuh.
- Marseille & Lyon: Rombongan massa berupaya menerobos masuk ke balai kota di Marseille, sementara beberapa kantor pemerintahan dan pertokoan di Lyon dibakar serta dirusak.
3. Kerugian Material dan Korban Jiwa
Aparat kepolisian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Dampak dari bentrokan intensif ini sangat memprihatinkan:
| Kategori | Catatan Dampak |
| Penangkapan | > 2.400 orang secara nasional (550+ masih dalam penahanan di Paris). |
| Aparat Terluka | Hampir 1.000 personel kepolisian dan gendarmerie mengalami luka-luka. |
| Kerusakan Usaha | Lebih dari 1.500 toko rusak/dijarah; raksasa ritel Carrefour melaporkan sekitar 50 gerai terdampak. |
| Kerugian Ekonomi | Diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta euro. |
| Korban Jiwa | 1 demonstran dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung di Paris. |
4. Respon Pemerintah
Presiden Emmanuel Macron mengecam keras aksi anarki dan penjarahan tersebut. Dalam pernyatannya, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir tindakan kriminal yang berlindung di balik hak berdemonstrasi.
“Hak untuk memprotes adalah hak fundamental. Namun, secara sengaja menciptakan kekacauan melalui kekerasan dan penjarahan sama sekali tidak dapat dibenarkan. Pelaku penyerangan dan perusakan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” tegas pihak otoritas keamanan Prancis.
Saat ini, ribuan personel keamanan tambahan masih disiagakan di pusat-pusat kota guna mencegah gelombang kerusuhan susulan.


