Ketgamb: Wali Kota Aulnoye-Aymeries di Perancis utara, Bernard Baudoux, terduduk lemas bersandar di mobil setelah diserang pemukim Israel di Desa Taybeh, wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel, pada Sabtu (17/10/2026).(Kompas/TANGKAPAN LAYAR via AFP)
Ulasan Redaksi
1. Realita Pahit di Lapangan
Foto dan rekaman video yang beredar luas pekan ini menampilkan pemandangan yang amat memprihatinkan. Bernard Baudoux (78 tahun), Walikota Aulnoye-Aymeries asal Prancis, tampak terkulai lunglai dan bersandar pada bodi mobil diplomatik. Selempang tiga warna (tricolour) khas pejabat Prancis masih melingkar di dadanya—sebuah simbol otoritas sipil yang seolah tak lagi dihormati oleh sekelompok pemukim ilegal Israel.
Insiden di dekat Desa Taybeh, Tepi Barat ini bukan sekadar tindak kekerasan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa aksi kekerasan pemukim (settler violence) makin tidak terkendali dan kini berani menyasar pejabat asing maupun perwakilan diplomatik.
2. Kronologi Kejadian
Baudoux berada di Tepi Barat bersama rombongan diplomat Eropa untuk mendampingi warga Palestina pada musim panen zaitun—sebuah program tahunan yang kerap diwarnai konflik akibat teror pemukim.
Berdasarkan kesaksian para diplomat di lokasi:
- Diserang Kelompok Bertopeng: Rombongan disergap secara mendadak oleh sekelompok pemukim ekstrimis bertopeng.
- Kekerasan Fisik: Para pelaku melontarkan hinaan, lalu menendang dan memukul Baudoux dengan batang besi.
- Perusakan Mobil Diplomatik: Rombongan mobil berpelat diplomatik milik perwakilan Eropa (termasuk Belgia) dilempari batu dan dirusak.
Walikota berusia lanjut itu akhirnya jatuh tersungkur dan terkulai lemas di samping kendaraan, terpaksa menyaksikan langsung betapa hukum internasional sama sekali tak diindahkan di lokasi tersebut.
3. Tiga Poin Penting di Balik Insiden
1. Kekebalan Hukum Pemukim Ekstrimis
Selama bertahun-tahun, kelompok pemukim di Tepi Barat merasa kebal hukum (impunity). Penegakan hukum atas tindakan kekerasan terhadap warga lokal tergolong sangat minim. Penyerangan terhadap walikota asal Prancis ini menunjukkan bahwa keberanian kelompok pemukim ekstrimis sudah berada di level yang sangat mengkhawatirkan.
2. Kelalaian Perlindungan oleh Otoritas Israel
Sebagai pihak yang menguasai wilayah tersebut (occupying power), Otoritas Israel memiliki kewajiban internasional untuk menjaga keamanan warga sipil dan rombongan diplomatik resmi. Fakta bahwa penyerangan ini bisa terjadi menandakan lemahnya pengawasan atau pembiaran terhadap aksi-aksi provokatif pemukim.
3. Peringatan Keras bagi Diplomasi Eropa
Prancis dan Uni Eropa secara konsisten mengkritik perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat. Namun, aksi penyerangan fisik terhadap Baudoux memberikan pesan provokatif yang amat jelas dari pemukim: “Status dan jabatan diplomatik Anda tidak berlaku di sini.”
4. Keteguhan Sikap Sang Walikota
Meski kondisi fisiknya lemas akibat serangan tersebut, semangat Baudoux tidak surut.Usai kejadian, ia menyampaikan pernyataan tegas:
“Dunia harus melihat apa yang sebenarnya terjadi di sini. Saya bisa kembali ke negara saya dengan aman, tetapi warga Palestina harus menghadapi tekanan ini setiap hari di tanah mereka sendiri.”
Pernyataan ini menegaskan inti masalahnya: jika seorang walikota dari negara anggota Tetap Dewan Keamanan PBB saja bisa diserang hingga terkulai di muka umum, bisa dibayangkan betapa tingginya tingkat kerentanan yang harus dihadapi warga lokal Palestina sehari-hari.
5. Catatan Akhir
Meskipun kepolisian setempat menyatakan telah membuka penyelidikan, publik internasional tetap skeptis. Negara-negara Eropa—khususnya Pemerintah Prancis—dituntut untuk tidak hanya mengeluarkan kecaman verbal.
Foto Bernard Baudoux yang terkulai lemas di samping mobil harus menjadi titik balik diplomasi Barat. Jika aksi anarki terhadap pejabat asing ini tidak direspons dengan sanksi nyata dan ketegasan hukum, maka wibawa hukum internasional akan semakin kehilangan maknanya.


