SELAT SUNDA, 12 Oktober 2026 — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dikutip dari Tribunnews.com, keputusan strategis ini diambil menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak awal Oktober, ditandai dengan belasan kali letusan beruntun serta puluhan gempa letusan.
Data Teknis Pemantauan Vulkanik
Berdasarkan laporan pengamatan instrumental dan visual terbaru dari Stasiun Pasauran dan Tanjung:
- Erupsi Beruntun: PVMBG mencatat sedikitnya 14 kali erupsi pada rentang 6–9 Oktober 2026, dengan durasi erupsi terpanjang mencapai sekitar 12 menit.
- Aktivitas Kegempaan: Dalam kurun pengamatan 24 jam terakhir, terekam 26 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo maksimum berkisar antara 28 hingga 66 mm dan durasi antara 12 hingga 752 detik.
- Karakteristik Erupsi: Erupsi melontarkan kolom abu tebal bertekanan sedang hingga tinggi, disertai pancaran material pijar di sekitar area kawah.
Zona Bahaya & Rekomendasi Resmi PVMBG
Badan Geologi mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pengelola transportasi laut di perairan Selat Sunda:
- Radius Aman 5 Km: Dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat kawah/erupsi.
- Pembatasan Pulau Baru: Dilarang memasuki area dalam radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
- Ancaman Material Vokanik: Waspadai potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta potensi erupsi sekunder akibat kontak material panas dengan air laut.
Penjelasan Ahli: Potensi Tsunami & Isu Simpang Siur
Menanggapi kepanikan warga di pesisir Banten dan Lampung terkait potensi tsunami, pakar bencana dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia, Dr. Daryono, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan rasional, tidak terpengaruh atau mudah mempercayai rumor, hoaks tsunami yang beredar di media sosial tanpa verifikasi resmi.



