JAKARTA – Di balik megahnya gedung-gedung pemerintahan, sebuah keretakan sunyi sedang menjalar di tengah masyarakat. Bukan retak pada fondasi beton, melainkan pada rasa percaya rakyat terhadap para pemimpinnya. Sosiolog Okky Madasari memperingatkan bahwa “inflasi pejabat inkompeten” telah memicu dampak sosiologis yang mengerikan: hilangnya kepercayaan publik secara total.
Demikian ditegaskan saat tampil podcast di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, kemarin. Bagi Okky, ini bukan sekadar urusan ketidakpuasan sesaat, melainkan luka batin kolektif sebuah bangsa yang merasa dikhianati oleh mereka yang seharusnya melayani.
Normalisasi Kegagalan
Dalam analisisnya yang tajam, Okky menyoroti bagaimana masyarakat mulai terbiasa dengan kegagalan. Ketika pejabat yang tidak kompeten tetap dibiarkan menduduki posisi kunci tanpa sanksi atau rasa malu, publik mulai menganggap kehancuran sebagai sesuatu yang lumrah.
“Dampaknya adalah apatisme. Masyarakat akhirnya merasa bahwa siapa pun yang menjabat, hasilnya akan tetap sama: mengecewakan. Ini adalah titik di mana rakyat mulai berhenti berharap pada negara,” ungkap Okky.
Sinisme Sebagai Perisai
Secara sosiologis, hilangnya kepercayaan ini bermuara pada fenomena sinisme sosial yang akut. Kebijakan publik yang seharusnya disambut dengan optimisme, kini justru diterima dengan kecurigaan atau bahkan cemoohan di media sosial.
Okky melihat bahwa meme, satire, dan sarkasme yang membanjiri ruang digital bukan sekadar hiburan, melainkan cara rakyat bertahan hidup di tengah kepemimpinan yang dianggap absen secara kualitas. Ketika komunikasi politik hanya berisi klaim sepihak sementara kenyataan di lapangan berkata sebaliknya, yang lahir kemudian adalah penolakan mental terhadap otoritas.
Putusnya Kontrak Sosial
Bahaya terbesar dari defisit integritas ini, menurut Okky, adalah putusnya “kontrak sosial” yang tak tertulis. Rakyat merasa kewajibannya sebagai warga negara—seperti membayar pajak dan mematuhi aturan—tidak sebanding dengan kualitas kepemimpinan yang mereka dapatkan.
“Bagaimana mungkin kita menuntut integritas dari rakyat, jika di level atas yang terjadi adalah perayaan inkompetensi?” Kini, Indonesia berdiri di persimpangan jalan yang sunyi. Tanpa langkah drastis untuk memulihkan martabat jabatan publik, kepercayaan yang hilang ini mungkin tak akan pernah kembali. Di mata publik, pemerintah bukan lagi solusi, melainkan beban sejarah yang harus mereka panggul sendiri.



