DARI DAPUR KE STRUKTUR: Menggugat Akar Rapuh di Balik Krisis Nasional

c0001.00 05 59 20.still002

JAKARTA – Selama ini, kegaduhan di ruang publik sering kali diredam dengan statistik ekonomi yang dipoles sedemikian rupa. Namun, seperti dikutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, sosiolog Okky Madasari  melempar sebuah tesis yang lebih dingin dan menggentarkan: persoalan Indonesia hari ini bukan lagi sekadar urusan perut yang lapar atau dompet yang tipis, melainkan sebuah keruntuhan sistemik yang melubangi fondasi bernegara.

Ini bukan sekadar pergeseran angka inflasi, melainkan pergeseran paradigma. Okky melihat bahwa masalah ekonomi yang kita hadapi hanyalah gejala luar dari sebuah penyakit kronis di jantung kekuasaan.

Bukan Sekadar Salah Hitung

Jika pemerintah sibuk berdalih pada ketidakpastian global dan fluktuasi pasar, Okky justru menunjuk pada wajah-wajah di balik meja pengambilan keputusan. Masalah ekonomi hanyalah hilir dari hulu yang bernama inkompetensi.

“Kita tidak sedang sekadar menghadapi salah hitung dalam kebijakan ekonomi,” demikian esensi kritiknya. Sebaliknya, kita sedang menyaksikan mesin birokrasi yang dipaksa bekerja oleh sekrup-sekrup yang berkarat. Pejabat yang hadir tanpa kompetensi teknis dan absen integritas moral telah mengubah masalah administratif menjadi bencana sistemik.

Kekuasaan yang Kehilangan Kompas

Dalam kacamata sosiologis yang tajam, pergeseran paradigma ini menunjukkan bahwa kegagalan bukan lagi insiden, melainkan desain. Ketika jabatan publik menjadi kado politik ketimbang mandat keahlian, maka sistem tersebut sedang menggali kuburnya sendiri.

Ekonomi hanyalah panggung tempat kegagalan itu dipentaskan. Di belakang layar, ada krisis rekrutmen politik dan pengabaian atas standar etika yang seharusnya menjadi kompas bagi seorang abdi negara. Okky mengisyaratkan bahwa membenahi harga pangan atau nilai tukar mata uang akan sia-sia jika “operator” sistemnya masih orang-orang yang hanya pandai bersiasat, namun tumpul dalam bekerja.

Menagih Nalar di Balik Narasi

Tulisan ini menjadi pengingat pahit bahwa publik tidak boleh terus-menerus disuapi dengan janji-janji angka. Pergeseran paradigma ini menuntut rakyat untuk melihat lebih dalam: bahwa kemiskinan dan ketimpangan bukan semata-mata takdir pasar, melainkan produk dari sistem yang dikelola oleh mereka yang defisit integritas.

Okky Madasari, melalui suaranya yang lugas, seolah mengetuk meja kekuasaan dengan keras. Ia menegaskan bahwa tanpa pembersihan sistemik terhadap “inflasi pejabat” yang tak kompeten, republik ini hanya akan terus berputar dalam lingkaran setan krisis yang sama, dengan nama dan wajah yang berbeda.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top