TEHERAN — Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas seiring langkah Iran memamerkan kapabilitas militernya melalui sebuah video propaganda terbaru. Teheran secara terbuka mengklaim mampu melumpuhkan hingga menghancurkan kapal induk Amerika Serikat, yang selama ini menjadi simbol absolut supremasi militer Washington di samudra.
Mantan Atase Pertahanan RI di Iran periode 2009-2012, Mayjen TNI (Purn) Prof. Budi Pramono, menilai narasi agresif tersebut bukan sekadar gertakan sambal. Dalam diskusinya di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, ia menyoroti pernyataan tanpa tedeng aling-aling dari pihak Iran: “Kami memiliki kemampuan untuk meluluhlantakkan kapal induk Amerika.”
Doktrin Asimetris: ‘Cost-Imposing Warfare’
Menurut Prof. Budi, Iran menyadari bahwa menghadapi AS secara konvensional adalah hal mustahil. Oleh karena itu, Iran membangun doktrin perang asimetris yang mematikan namun efisien secara biaya.
“Iran tidak membutuhkan kekuatan sebesar Amerika untuk menghancurkan kapal induk. Mereka menggunakan pendekatan cost-imposing warfare,” jelasnya. Strategi ini mengandalkan tiga pilar utama:
- Rudal Balistik dan Anti-Kapal: Jangkauan jauh dengan akurasi tinggi.
- Drone Bunuh Diri: Murah, masif, dan sulit dideteksi radar sepenuhnya.
- Armada Kapal Cepat: Digunakan untuk taktik swarm (keroyokan).
Selat Hormuz: ‘Lubang Maut’ Bagi Armada Besar
Secara geografis, Iran memegang kartu as di Selat Hormuz. Di perairan sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia ini, ukuran raksasa kapal induk AS justru menjadi titik lemah.
“Di wilayah sempit, kapal induk kehilangan kelincahannya dan menjadi sasaran empuk serangan simultan dari darat maupun laut,” tambah pakar militer tersebut. Iran diprediksi akan menggunakan serangan saturasi—membombardir satu target dengan ratusan proyektil sekaligus—untuk menembus sistem pertahanan lapis baja Aegis milik AS.
Ujung Tombak di Tangan IRGC
Agresivitas ini dimotori oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Berbeda dengan tentara reguler, unit angkatan laut IRGC dirancang untuk operasi non-konvensional yang fleksibel dan berisiko tinggi. Strategi mereka bukan untuk memenangkan pertempuran laut terbuka, melainkan membuat biaya yang harus dibayar musuh menjadi sangat mahal sehingga mereka berpikir dua kali untuk menyerang.
Antara Realita dan Deterrence
Meski klaim Iran terdengar bombastis, Prof. Budi mengingatkan bahwa menghancurkan satu Carrier Strike Group AS tetaplah tantangan teknis yang luar biasa berat mengingat perlindungan intelijen dan satelit canggih mereka.
Namun, ia menekankan bahwa kemenangan strategis bagi Iran tidak selalu berarti menenggelamkan kapal induk.
“Cukup dengan melumpuhkan atau merusak fungsinya saja, Iran sudah memenangkan perang narasi secara global,” ungkapnya.
Dampak bagi Indonesia dan Dunia
Eskalasi di Teluk ini bukan sekadar urusan dua negara. Jika gesekan fisik benar-benar terjadi di Selat Hormuz, dampak sistemiknya akan langsung terasa pada:
- Lonjakan harga minyak mentah dunia.
- Terganggunya jalur perdagangan internasional.
- Ketidakpastian ekonomi global.
- Prof. Budi Pramono menegaskan bahwa video pamer kekuatan tersebut adalah bagian dari deterrence strategy (strategi pencegahan). Iran ingin dunia tahu bahwa mereka telah membangun model perang yang murah, fleksibel, dan mematikan—sebuah pesan kuat yang secara efektif menggeser keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.



