Pizaro: Diplomasi Buntu di Pakistan, Timur Tengah Kembali Genting

whatsapp image 2026 03 30 at 09.49.18 (3)

JAKARTA – Kegagalan perundingan damai di Pakistan yang berakhir tanpa kesepakatan (deadlock) memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas keamanan global. Pengamat Timur Tengah, Pizaro Gozali, memberikan kritik tajam terhadap peran Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dinilai menggunakan pola komunikasi menyesatkan.

Dalam dialog di program “Pagi-Pagi Seru” TV One, Pizaro secara blak-blakan mengungkapkan kekesalannya terhadap klaim-klaim sepihak yang sering dilontarkan Trump ke hadapan publik.

Kritik Keras atas “Klaim Kemenangan” Trump

Pizaro menyoroti paradoks dalam narasi yang dibangun oleh Gedung Putih. Menurutnya, klaim Trump bahwa Amerika berada di posisi pemenang dalam konflik ini sangat tidak logis jika disandingkan dengan realitas di meja perundingan.

“Secara logika sederhana, kalau memang mereka (AS) sudah menang, kenapa masih harus dibawa ke meja perundingan? Ini menunjukkan ada ketidakberdayaan yang ditutupi dengan retorika kemenangan sepihak ke publik,” ujar Pizaro dengan nada gusar.

Ancaman Blokade Selat: “Kiamat” Energi Menanti?

Gagalnya kesepakatan ini, menurut Pizaro, akan berdampak langsung pada eskalasi militer di wilayah perairan strategis. Ia memprediksi Timur Tengah akan kembali masuk ke fase genting, di mana kekuatan poros perlawanan akan mulai bergerak secara terkoordinasi.

  1. Iran & Selat Hormuz: Pizaro meyakini Teheran akan mengambil langkah ekstrem dengan menutup rapat Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia.
  2. Houthi & Jalur Merah: Sejalan dengan Iran, kelompok Houthi diprediksi akan memperketat blokade selat di wilayah mereka, memutus rantai pasok maritim.

Konsekuensi dari langkah ini sudah sangat jelas: lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini diyakini akan memicu gejolak ekonomi dan sosial di dalam negeri Amerika Serikat sendiri.

Tuduhan Pengintaian Berkedok “Pembersihan”

Lebih lanjut, Pizaro melontarkan tuduhan serius terkait pergerakan militer Amerika di kawasan tersebut. Ia menilai kehadiran kapal perang Amerika yang berniat memasuki Selat Hormuz dengan alasan “operasi pembersihan” hanyalah sebuah kamuflase.

“Alasan pembersihan itu cuma dalih. Tujuan aslinya adalah pengintaian (reconnaissance) terhadap kekuatan militer Iran. Mereka ingin mengukur sejauh mana ketahanan Iran yang hingga saat ini justru terlihat semakin kokoh dan sulit ditembus,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya dialog tanpa hasil di Pakistan, mata dunia kini tertuju pada Teheran dan Washington. Jika diplomasi benar-benar mati, maka bahasa kekuatan militer di Selat Hormuz tampaknya tinggal menunggu waktu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top