JAKARTA – Budayawan senior Mohamad Sobary melayangkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan nasional saat ini yang dinilainya miskin substansi dan hanya sibuk memoles citra luar. Pria yang akrab disapa Kang Sobary ini menyebut banyak pemimpin terjebak pada kosmetik politik atau sekadar berkutat pada “kulit” ketimbang “isi”.
Kritik pedas tersebut diungkapkan Kang Sobary dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP. Secara blak-blakan, mantan Kepala Kantor Berita Antara ini menyoroti fenomena pemimpin yang gemar meniru gaya berpidato tokoh besar masa lalu, seperti proklamator Bung Karno, namun gagal menangkap esensi pemikirannya.
“Kalau niru Bung Karno, ya jangan niru gaya pidatoya. Itu kan bagian kulit-kulitnya. Gaya pidato itu kulit! Kalau niru Bung Karno, niru wawasannya yang namanya political perspective, substansinya, global perspective, independen, freedom,” ujar Sobary dengan nada bicara yang lugas dan berenergi.
Menurut Sobary, kegemaran meniru kulit luar ini tak ubahnya kelakuan anak remaja yang sedang mengagumi idola. Level tersebut dinilainya sangat tidak pantas bagi seseorang yang sudah memegang mandat sebagai kepala negara atau pemimpin bangsa.
“Orang kalau sudah jadi presiden, apalagi umurnya sudah segitu, enggak perlu masih kagum pada kulit. Kapan lu mau bicara substansi? Presiden kok kagum pada kulit, kagumlah pada isi,” sindirnya menohok.
Untuk memberikan kontras, Sobary kemudian mengenang sosok Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang disebutnya sebagai contoh nyata dari “manusia substansi”. Meski Gus Dur kerap dinilai tidak terampil dalam urusan birokrasi teknis, namun ia memiliki kesabaran moral untuk menanamkan gagasan-gagasan besar bagi peradaban bangsa.
“Gus Dur itu orang substansi. Beliau lebih mencorong sebagai kepala negara dibanding sebagai kepala pemerintahan. Kepala negara yang memberi perspektif besar, memberi gagasan-gagasan mulia, membawa bangsa itu pada nation building dan character building,” kenang sahabat dekat Gus Dur tersebut.
Sobary menilai, penyakit “pemimpin kulit” inilah yang membuat Indonesia tak kunjung beranjak dari keterpurukan meski sudah hampir 80 tahun merdeka. Para pemegang kekuasaan dinilai tidak memiliki kemandirian berpikir dan masih mendewakan retorika di atas podium.
Ia mengingatkan bahwa kaum akademisi dan guru di sekolah sudah sangat pandai berpidato setiap hari. Oleh karena itu, rakyat tidak membutuhkan presiden yang hanya bisa menambah daftar panjang pidato-pidato indah tanpa arah yang jelas.
“Saya itu enggak senang kalau pemimpin itu pidato. Aku pandai pidato, tapi apa gunanya pidatoku? Apa gunanya pidatomu? Kamu enggak usah pidato, lakukan tindakan! Kalau ngomong pembebasan, lakukan sesuatu yang bikin rakyat bebas. Kalau ngomong keadilan, ya lakukan adil,” pungkas Sobary.




Great post. I amm gong through solme oof therse isues aas well..
Feeel freee to visiot mmy web-site – rolo xxx
I do nnot know iif it’s just mee oor iif everyone elsse eencountering isues ith youhr blog.
It ooks llike soe oof the writtten tedt within youur
conttent arre runnjing offf the screen. Cann ssomebody elsse please
commednt aand llet mme know iff this is happenning tto
them too? Thhis might bbe a prokblem with mmy web browsedr brcause
I’ve hadd this happe previously. Thanks
my himepage – le loup blanc createur sm
Thanks a loot for sharig tyis wwith aall off us youu realpy reconize whqt you’re sspeaking
approximately! Bookmarked. Kibdly additionally talk ver with mmy webb
site =). We cann hav a hyplerlink xchange arangement ajong
us
Aw, this wass aan exceptinally glod post. Takiung thee time and actuual effortt to generate
a supeb article… but whazt cann I say… I hesitrate a whoe lot aand nevr seerm too gett early anyrhing
done.