Kang Sobary : Pemimpin Sekarang Meninggalkan Legesi Kemunduran Akal Sehat

whatsapp image 2026 05 29 at 14.21.16

JAKARTA – Budayawan dan kritikus sosial senior, Mohamad Sobary, melayangkan otopsi politik yang sangat pedas mengenai realitas kepemimpinan nasional hari ini. Pria yang akrab disapa Kang Sobary ini secara blak-blakan membedah kontras antara penguasa yang meninggalkan legasi nilai (value) dengan rezim yang justru mewariskan kemunduran akal sehat bagi peradaban bangsa.

Pandangan menohok tersebut diutarakannya dalam sebuah wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP. Sobary menggunakan pisau analisis filsafat untuk menegaskan esensi sejati dari seorang pemimpin besar.

“Orang besar itu bukan orang yang cukup berfungsi sebagai penerima warisan, tidak. Orang besar itu adalah mereka yang meninggalkan warisan bermakna. Mereka sibuk memberi makna pada hidupnya sendiri dan menemukan hal-hal luhur untuk diwariskan kepada bangsanya,” ujar Sobary dengan lugas.

Mantan Kepala Kantor Berita Antara ini kemudian membandingkannya dengan realitas politik kontemporer di tanah air. Dengan gaya bahasa yang tajam dan tanpa tedeng aling-aling, sahabat karib Gus Dur ini menyebut ada ironi besar di mana aturan hidup dan konstitusi sengaja disimpangkan demi melanggengkan kekuasaan keluarga.

Bagi Sobary, tragedi terbesar sebuah bangsa bukanlah kemiskinan materi, melainkan ketika “kebodohan mutlak” dan ketidaklayakan dipaksakan untuk dijunjung tinggi sebagai standar baru kepemimpinan.

“Wong deso, enggak pantes, tapi menyimpangkan aturan-aturan hidup. Kalau bekas korupsi itu masih ada, kita mungkin masih punya kesabaran. Tapi begitu warisannya itu ketololan menjadi warisan bangsa, wah, itu menampar wajah bangsa! Janganlah kebodohan yang mutlak seperti itu dijunjung tinggi dan dihormati sebagai pemimpin,” cecar Sobary.

Ia menilai, mempromosikan figur yang tidak berkompeten dan tidak matang secara intelektual ke tampuk kekuasaan tertinggi adalah penghinaan terhadap akal sehat publik sekaligus merusak proyek besar character building (pembangunan karakter) yang dicita-citakan para pendiri bangsa.

Sobary menambahkan, pemimpin yang lahir dari rahim tradisi intelektual yang gersang tidak akan pernah sempat memikirkan nasib rakyat kecil. Sebab, ritme hidup dan kapasitas berpikir mereka sangat terbatas.

“Aktivis, pemikir, sastrawan itu paling cepat tidur jam dua malam karena memikirkan bangsa. Gus Dur itu ibaratnya enggak tidur, bahkan tidur di forum pun pikirannya tetap nyambung dengan substansi. Lah ini, pemimpin apa jam sembilan malam sudah sibuk menyiapkan tidur? Kapan mau memikirkan rakyat?” sindirnya tajam.

Sebagai penutup, budayawan senior ini memperingatkan bahwa warisan kekuasaan yang manipulatif hanya akan meninggalkan luka sejarah. Indonesia, menurutnya, berada di persimpangan jalan: apakah akan terus merawat legasi nepotisme yang membodohkan, atau mulai berani membangun legasi nilai lewat penegakan hukum yang adil dan konsisten.

“Kita butuh pemimpin yang waras sedikit saja untuk bisa meninggalkan nilai sebagai legasi hukum dan pendidikan. Kalau nilai itu sudah melembaga menjadi sistem yang mapan, wajah bangsa ini tidak akan lagi tertampar oleh kebodohan-kebodohan kekuasaan,” pungkas Sobary.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top