“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.” Kalimat pembuka konstitusi kita itu seringkali terdengar seperti slogan usang yang kehilangan taringnya. Namun, bagi Nasir Tamara, jurnalis senior yang menyaksikan langsung bagaimana rakyat Iran bertaruh nyawa demi kedaulatan pada 1979, kalimat itu adalah napas yang nyata. Melalui kacamata sejarah yang ia bagikan, kita diajak untuk melihat kembali: sejauh mana Indonesia benar-benar berdaulat atas nasibnya sendiri?
Nasionalisme yang Bukan Sekadar Kata
Hikmah pertama yang dibawa Nasir Tamara dari pengalamannya bersama Imam Khomeini adalah tentang integritas menjaga kepentingan nasional (national interest). Di Iran, ia melihat bagaimana sebuah bangsa berani menarik garis tegas terhadap hegemoni global demi melindungi sumber daya alam dan energinya.
“Mereka memiliki kesadaran sejarah yang pedih akan dikte asing,” ungkap Nasir. Bagi Indonesia, relevansinya sangat nyata. Di tengah perebutan sumber daya mineral dan energi dunia, hikmah dari Teheran mengingatkan kita bahwa kekayaan alam harus dikelola dengan keberanian intelektual agar tidak sekadar menjadi bahan kerukan pihak luar, tetapi menjadi modal kemandirian bangsa.
Menghapus Jarak, Membangun Kepercayaan
Salah satu hikmah paling menyentuh adalah soal karakter kepemimpinan. Nasir Tamara menggarisbawahi bahwa ketahanan Iran di bawah embargo puluhan tahun mustahil terwujud jika ada jurang lebar antara elit dan rakyat. Di sana, kesederhanaan bukan polesan citra, melainkan syarat mutlak kepemimpinan.
Di Indonesia, kita seringkali melihat pemandangan kontras: pejabat yang pamer kemewahan (flexing) di tengah rakyat yang berhimpit ekonomi. Catatan Nasir mengingatkan bahwa kedaulatan hanya bisa kokoh jika rakyat memiliki rasa memiliki (ownership) terhadap negaranya. Rasa memiliki itu lahir dari keadilan, ketika rakyat melihat pemimpinnya tidak makan di meja yang berbeda jauh kualitasnya dengan mereka.
Kemandirian: Inovasi di Tengah Kepungan
Relevansi lainnya adalah tentang mentalitas. Iran dipaksa pintar oleh keadaan. Embargo melahirkan “ekonomi perlawanan” yang berbasis pada riset dan sains domestik. Hikmah bagi Indonesia adalah: jangan menunggu sanksi atau krisis untuk mulai berinovasi.
Indonesia memiliki talenta muda yang luar biasa, namun seringkali kita lebih memilih jalan pintas dengan mengimpor teknologi atau tenaga ahli. Nasir Tamara menunjukkan bahwa kedaulatan teknologi adalah harga mati. Sebuah bangsa hanya benar-benar merdeka jika ia mampu memproduksi makanannya sendiri, menciptakan obatnya sendiri, dan membangun sistem pertahanannya sendiri melalui tangan-tangan anak bangsanya.
Martabat di Atas Segalanya
Menyimak perjalanan Nasir Tamara dari Paris ke Teheran bukan sekadar urusan mengenang masa lalu. Ini adalah peringatan bagi Indonesia untuk kembali pada semangat “Bung Karno” dan “Bung Hatta”—semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari).
Hikmah terbesarnya adalah: sebuah bangsa akan dihormati oleh dunia bukan karena seberapa patuh ia pada kekuatan besar, melainkan seberapa kuat ia memegang martabatnya. Seperti yang disaksikan Nasir pada sosok Khomeini dan rakyat Iran, ketika sebuah bangsa memiliki harga diri, kekuatan sehebat apapun tak akan pernah mampu menekuk leher mereka.



