JAKARTA – Di tengah kepungan risiko fiskal dan pelemahan daya beli, para pakar menekankan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk menghindar dari kehancuran ekonomi total. Namun, langkah yang diambil haruslah bersifat radikal dan keluar dari zona nyaman pragmatisme politik. “Jalan Keluar yang Rasional” kini menjadi urgensi yang tidak bisa ditawar lagi.
Ekonom Senior, Yanuar Rizky, menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan laju krisis adalah dengan keberanian pemimpin negara untuk melakukan diet anggaran dan membangun konsensus nasional yang jujur. Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak akan tercapai selama para elit masih terjebak dalam praktik saling sandra kepentingan.
“Pemerintah harus berhenti meniup balon anggaran. Jika kita ingin selamat, kita harus menurunkan beban, mengatur ulang prioritas belanja, dan berani berkata tidak pada proyek yang tidak produktif secara langsung bagi perut rakyat,” ujar Yanuar.
Berikut adalah langkah-langkah strategis yang diusulkan sebagai jalan keluar rasional bagi krisis saat ini:
- Konsensus Nasional Antar-Pemimpin: Presiden didesak untuk memimpin rekonsiliasi dengan tokoh-tokoh bangsa (seperti Jokowi, SBY, dan Megawati) untuk sepakat berhenti saling menyandera secara politik. Konsensus ini bertujuan agar kebijakan pengetatan anggaran tidak digoyang oleh kepentingan oposisi atau elit yang merasa jatah proyeknya dikurangi.
- Restrukturisasi Utang Melalui Bond Holder Meeting: Indonesia perlu mengajukan negosiasi ulang kepada pemegang surat utang global. Dengan menunjukkan perbaikan tata kelola (governance) dan komitmen pemberantasan korupsi, pemerintah dapat meminta penundaan bayar pokok atau bunga guna menyelamatkan napas APBN.
- Prioritas Ekonomi Riil (M0): Fokus kebijakan harus dikembalikan pada penjagaan perputaran uang di tingkat akar rumput. Ini termasuk penghentian penahanan restitusi pajak bagi pengusaha kecil-menengah agar PHK massal dapat dicegah dan daya beli masyarakat kembali bergerak.
- Audit Kebocoran Anggaran: Mengidentifikasi dan menutup lubang-lubang korupsi sistemik yang selama ini menjadi beban tersembunyi dalam debt service ratio Indonesia.
Yanuar mengingatkan bahwa pilihan yang ada saat ini pahit namun menyelamatkan. Tanpa adanya keberanian untuk “tobat bersama” secara politik dan ekonomi, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu hingga gejolak sosial memaksa terjadinya perubahan secara tidak terkendali.
“Kita butuh teladan dari para pemimpin untuk berkorban bersama-sama. Kembalikan kedaulatan ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada penjajahan utang modern. Itulah satu-satunya jalan keluar yang masuk akal sebelum balon ini pecah,” pungkasnya.



