Kang Sobary : Berharap Reformasi Jilid II Itu Jelek, Tapi tidak Memilih Reformasi, itu Jauh Lebih Jelek

whatsapp image 2026 05 29 at 14.21.17

JAKARTA – Budayawan sekaligus kritikus sosial senior, Mohamad Sobary, melontarkan pandangan sinis sekaligus getir mengenai perjalanan 28 tahun Reformasi di Indonesia. Pria yang akrab disapa Kang Sobary ini menilai bangsa Indonesia kini terjebak dalam dilema eksistensial yang akut antara memilih jalan reformasi kembali atau membiarkan kondisi berjalan apa adanya (status quo).

Pandangan tajam tersebut disampaikan Kang Sobary saat menjadi narasumber dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang diunggah baru-baru ini.

“Kalau kita menempuh jalur politik namanya reformasi, itu jelek. Kalau kita tidak tempuh jalur itu, lebih jelek. Jadi sebenarnya tidak ada pilihan yang diperhadapkan pada kita,” ujar Kang Sobary dengan nada retoris.

Mantan Kepala Kantor Berita Antara ini menjelaskan, gerakan perubahan besar seperti reformasi atau revolusi yang terjadi secara mendadak pada dasarnya adalah “barang buruk” karena cenderung memakan korban, menguras energi bangsa, dan kerap mengorbankan kelompok masyarakat tertentu. Oleh sebab itu, perubahan makro yang berdarah-darah tidak boleh dijadikan sebuah tradisi atau rutinitas sejarah.

Namun di sisi lain, mempertahankan kondisi saat ini juga dinilainya jauh lebih buruk. Pasalnya, euforia Reformasi 1998 yang berhasil menumbangkan rezim otoriter Orde Baru beserta kroni-kroninya kini dianggap telah kehilangan jejak dan legasi.

Menggunakan alegori politik dari novel legendaris Animal Farm karya George Orwell, Sobary menganalogikan siklus kekuasaan di Indonesia layaknya pergantian kepemimpinan dalam dunia hewan. Gerakan reformasi sering kali hanya mampu meruntuhkan dominasi “babi jahat” untuk kemudian digantikan oleh “babi baik”. Namun, karena watak kekuasaan itu lebih candu daripada narkotika, sang “babi baik” perlahan berubah menjadi penindas yang baru.

“Reformasi itu cuma menjatuhkan buto (raksasa/penindas) diganti oleh buto. Rakyat cuma menjadi saksi yang getir. Yang berkuasa dulu raksasa, diganti oleh orang yang kelihatannya bukan raksasa, tapi hakikatnya dia juga buto,” kritik sahabat dekat mendiang Gus Dur tersebut.

Menurut Sobary, kegagalan reformasi berakar pada absennya kesabaran dari para pemimpin untuk melakukan “perubahan programatik”—yakni kerja-kerja teknis-birokratis yang nyata ketimbang sekadar mengumbar jargon politik dan pidato indah di atas podium. Ia menegaskan bahwa rakyat hari ini sudah lelah dengan kosmetik politik dan retorika “kulit” yang meniru-niru gaya proklamator tanpa memiliki kedalaman substansi berpikir.

Sebagai jalan keluar dari dilema ini, Sobary mendesak agar penguasa ke depan berhenti berpidato dan mulai fokus membenahi satu per satu sektor krusial secara radikal, terutama di bidang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, hingga menjadi nilai (value) yang mapan di masyarakat.

“Rakyat tidak butuh pembicaraan, rakyat butuh tindakan nyata. Just do it, don’t speak!” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top