JAKARTA – Budayawan dan kritikus sosial senior, Mohamad Sobary, membedah borok kekuasaan di Indonesia dengan analogi yang menampar. Mengutip mahakarya George Orwell, Animal Farm, pria yang akrab disapa Kang Sobary ini menyebut siklus politik di tanah air tak lebih dari drama pergantian aktor penindas, di mana rakyat selalu berakhir sebagai penonton yang getir.
Pernyataan menohok itu disampaikannya dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP. Sobary menggunakan alegori Orwell untuk menggambarkan bagaimana kekuasaan memiliki daya rusak yang luar biasa, bahkan bagi orang yang awalnya dianggap “baik”.
“Dalam Animal Farm, babi jahat yang otoriter dijatuhkan oleh rombongan babi baik. Tapi karena kekuasaan itu candu yang lebih dahsyat dari narkoba, si babi baik ini pelan-pelan berubah menjadi babi jahat yang baru. Kekuasaan itu mengulang-ulang penindasan,” cetus Sobary dengan lugas.
Mantan Kepala Kantor Berita Antara ini menegaskan bahwa watak dasar kekuasaan egoistik adalah melahirkan dikotomi abadi antara the oppressor (penindas) dan the oppressed (yang tertindas). Levelnya mungkin berbeda, dari yang berskala kecil hingga yang mengerikan, namun substansinya tetap sama: menindas.
Menurut Sobary, orang tidak perlu menjadi psikopat untuk berbuat culas dan menindas sesamanya.
“Orang yang waras wiris pun doyan menindas kalau sudah pegang kuasa. Menindas itu mungkin terasa enak bagi mereka,” sindirnya tajam.
Kritik Sobary semakin menusuk saat menarik alegori tersebut ke dalam realitas politik lokal menggunakan kosmologi Jawa. Ia menyebut gerakan Reformasi 1998 yang berdarah-darah pada akhirnya gagal memutus rantai penindasan karena watak para pemegang takhta yang tidak pernah berubah.
“Reformasi itu cuma menjatuhkan Buto (raksasa penindas) untuk digantikan oleh Buto yang lain. Rakyat dipaksa bersorak saat satu tiran tumbang, tanpa sadar bahwa yang menggantikannya sedang bersiap memakai cambuk yang sama. Hakikatnya mereka sama-sama raksasa,” cecar sahabat karib Gus Dur tersebut.
Sobary menilai ironi terbesar bangsa ini adalah penguasa yang gemar memoles citra dan meniru “kulit” luar para pendahulu yang hebat—seperti meniru gaya pidato Bung Karno—tetapi kosong dalam substansi. Akibatnya, kekuasaan hanya melahirkan kemunduran moral dan penyimpangan aturan yang kian telanjang.
Menutup pandangannya, budayawan senior ini memperingatkan bahwa selama pemimpin bangsa masih sibuk mengumbar janji di atas podium tanpa keberanian mengeksekusi tindakan nyata, Indonesia akan terus terjebak dalam kutukan Animal Farm.
“Rakyat sudah muak dengan pidato. Kekuasaan yang menindas ini hanya bisa dihancurkan dengan satu hal: tindakan nyata, bukan kosmetik politik. Just do it, don’t speak!” pungkas Sobary.



