Kang Sobary: Sekarang Tikus Sedang Bernyanyi dan Menari di Atas Penegak Hukum yang Sakit

whatsapp image 2026 05 29 at 14.21.17 (1)

JAKARTA – Budayawan dan kritikus sosial senior, Mohamad Sobary, menggunakan metafora satire yang menampar untuk menggambarkan bobroknya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia mengibaratkan para koruptor di tanah air saat ini seperti tikus-tikus yang sedang menari dan bernyanyi bebas karena institusi yang seharusnya memburu mereka sudah berubah menjadi “kucing gering” (kucing sakit).

Metafora menohok tersebut diambil dari buku karyanya sendiri yang berjudul Tikuse Padha Ngidung, yang ia bedah kembali dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.

“Koruptor-koruptor itu seperti tikus yang sedang ngidung. Ngidung itu berkidung-kidung, bernyanyi-nyanyi, menari-nari. Nah, kenapa kok bangsat-bangsat itu bisa menari-nari? Ya karena yang jaga itu kucing gering,” ujar Kang Sobary dengan gaya bahasanya yang lugas dan tanpa basa-basi.

Mantan Kepala Kantor Berita Antara ini menjelaskan, istilah “kucing gering” merupakan sebuah alegori kritis bagi aparat dan lembaga penegak hukum di Indonesia saat ini. Alih-alih menjadi predator yang ditakuti oleh para garong uang rakyat, institusi penegak hukum justru dinilai lemah, tidak berdaya, dan kehilangan taringnya.

“Kucing gering itu kucing yang enggak bisa nangkap tikus. Wong ngurus dirinya sendiri aja enggak kuat, gimana mau ngejar tikus? Nah, itulah gambaran penegakan hukum kita sekarang,” sindir sahabat karib Gus Dur tersebut.

Menurut Sobary, situasi di mana hukum kehilangan tajinya adalah hulu dari segala bentuk ketidakadilan sosial yang dirasakan masyarakat. Ketika hukum bisa dimanipulasi dan para koruptor dengan leluasa memamerkan hasil jarahannya, maka esensi dari sila kelima Pancasila—Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia—telah mati dan hanya menjadi kalimat indah di atas kertas.

Oleh karena itu, Sobary mendesak agar pemimpin negara ke depan memiliki keberanian moral yang radikal untuk mengobati “kucing-kucing yang sakit” ini. Caranya bukan dengan retorika politik, melainkan dengan tindakan konkret yang memberikan efek jera luar biasa.

“Enggak usah banyak omong. Koruptor itu ditangkap, dikasih miskin! Dimiskinin sehabis-habisnya. Duitnya diambil oleh negara untuk kesejahteraan rakyat, untuk pendidikan. Itu tindakan nyata, bukan sekadar kalimat pidato,” tegasnya.

Menutup pandangannya, Sobary memperingatkan bahwa selama lembaga penegak hukum masih dibiarkan menjadi “kucing gering” yang korup dan sibuk dengan internalnya sendiri, maka selama itu pula kekuasaan di Indonesia akan terus menindas rakyat kecil.

“Kita butuh penegakan hukum yang established dan mapan selama 10 hingga 20 tahun tanpa kompromi. Kalau hukumnya kuat, kucingnya sehat, tikus-tikus itu pasti habis dan negeri ini akan bersih,” pungkas Sobary tajam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top