JAKARTA – Karakter politik presiden Prabowo Subianto, dinilai tengah mengalami pergeseran drastis akibat penerapan “strategi penjinakan tokoh macan” oleh lingkaran oligarki di sekelilingnya. Figur yang dahulu dikenal tegas, meledak-ledak, dan vokal melawan ketidakadilan bahkan digelari sosok ‘’Macan Asia’’, kini dituding mulai melunak dan terseret ke dalam arus kompromi politik yang pragmatis.
Secara kebudayaan politik, taktik ini sudah lumrah merupakan strategi kuno yang kerap digunakan untuk menjinakkan tokoh-tokoh berkarakter kuat agar tidak mengganggu kenyamanan status quo.
“Saya kenal dekat Prabowo sejak dari dulu, setahu saya orangnya tidak seperti sekarang ini. Yang saya tahu orangnya dulu pintar, analisisnya bagus. Tapi belakangan ini saya tidak tahu banyak yang berubah,’’ ungkap Erros Djarot , seorang budayawan sekaligus politisi senior sebagaimana diulas di kanal YouTube Abraham Samad Speak.
Erros tidak menampik ada upaya sistematis untuk mengubah macan panggung politik menjadi figur yang pasif terhadap ketidakadilan sistemik. Prabowo dikepung oleh zona nyaman semu agar kehilangan daya dobraknya.
Mekanisme Penjinakan Karakter Pemimpin
Strategi penjinakan ini bekerja melalui struktur yang rapi dan tidak disadari oleh sang pemimpin sendiri. Ada beberapa pola utama yang kini terlihat di permukaan:
- Pemberian Panggung Utilitas: Pemimpin diberikan ruang luas untuk urusan seremonial dan diplomasi tingkat tinggi, namun aksesnya dihambat untuk mengintervensi kebijakan domestik yang menyentuh hajat hidup orang banyak.
- Pengepungan Informasi Berita Baik: Lingkaran dalam istana menyaring ketat informasi yang masuk, sehingga pemimpin hanya mendengar laporan yang menyenangkan dan mengira kondisi negara aman terkendali.
- Ikatan Kompromi Koalisi Gemuk: Dengan merangkul hampir semua kekuatan politik ke dalam koalisi, ruang gerak sang tokoh macan otomatis terkunci. Setiap keputusan harus mengakomodasi kepentingan banyak pihak, yang ujung-ujungnya mengorbankan agenda reformasi hukum dan pemberantasan korupsi.
Risiko Kehilangan Identitas Politik
Bahaya terbesar dari penjinakan ini adalah hilangnya jati diri politik. Ketika seorang pemimpin yang dikenal berani justru diam melihat etika bernegara ditabrak, pada saat itulah ia kehilangan legitimasi moral di mata rakyatnya.
Dampaknya kini mulai terasa di akar rumput. Publik yang dahulu berharap pada ketegasan Prabowo untuk memotong gurita oligarki, kini mulai mempertanyakan komitmen tersebut. Jika strategi penjinakan ini berhasil sepenuhnya, rezim baru diprediksi hanya akan menjadi kelanjutan dari sistem lama yang koruptif, tanpa ada perubahan struktural yang berarti bagi kesejahteraan rakyat.



