Perundingan Damai Iran Vs Amerika Berada di Titik Krusial

whatsapp image 2026 04 10 at 16.13.29 (4)

SWISS — Upaya perundingan damai yang tengah berlangsung antara delegasi Iran dan Amerika Serikat (AS) di Swiss berada di titik krusial. Meskipun kedua belah pihak sedang berupaya merumuskan Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding/MOU) untuk mengakhiri ketegangan militer, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat fluktuatif, ditandai dengan langkah taktis Iran yang kembali menutup Selat Hormuz.

Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, PhD, mengungkapkan bahwa rintangan terbesar yang membayangi meja perundingan saat ini bukanlah kendala teknis, melainkan krisis kepercayaan yang mendalam antar-kedua negara.

“Tantangan terbesar itu adalah adanya strategic deficit of trust (defisit kepercayaan strategis) sejak tahun 1979. Ini tantangan terberat. Isu penyelesaiannya adalah bagaimana merestorasi kepercayaan tersebut,” ujar Wibawanto dalam sebuah wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.

Menurut Wibawanto, defisit kepercayaan ini memicu kecurigaan yang konstan dari kedua belah pihak terhadap niat baik lawan dalam menjalankan komitmen. Akibatnya, dokumen di atas kertas sulit diimplementasikan secara konkret.

Isu pengayaan uranium dan program nuklir menjadi pusaran utama dari defisit kepercayaan ini. Dari kacamata Teheran, kepemilikan teknologi nuklir untuk tujuan sipil dan pemenuhan energi adalah hak kedaulatan penuh yang tidak dapat dinegosiasikan (non-negotiable). Sebaliknya, pemerintahan Washington mencurigai Iran tengah menerapkan strategi salami slicing—sebuah taktik eskalasi bertahap di mana pengayaan uranium terus ditingkatkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai ambang batas senjata militer.

Di sisi lain, Iran juga menaruh ketidakpercayaan besar terhadap komitmen ekonomi AS. Teheran menuntut jaminan pemulihan ekonomi pascaperang, pelonggaran sanksi sepihak, pencairan aset-aset negara yang dibekukan di luar negeri, hingga kompensasi finansial atas dampak konflik. Namun, AS cenderung bersikap hati-hati dan hanya mau memberikan kompensasi tersebut secara bertahap demi melihat progres kepatuhan Iran.

Kondisi saling sandera kepentingan ini membuat proses perundingan di Swiss berada pada level awal. Wibawanto menilai, saat ini kedua negara baru berada pada tahap conflict management (manajemen konflik) untuk mengontrol naik-turunnya eskalasi demi menghindari perang regional yang melebar, dan belum menyentuh tahap conflict resolution (resolusi konflik) yang substantif.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top