JAKARTA — Kompleksitas konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel kini tidak lagi sekadar urusan perseteruan bilateral, melainkan telah bergeser menjadi arena tarung kepentingan multi-aktor global. Ketegangan di wilayah vital ini memaksa kekuatan besar seperti China, negara-negara Teluk, hingga Israel mendesain ulang strategi geopolitik mereka demi mengamankan agenda nasional masing-masing.
Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, PhD, menegaskan bahwa perubahan peta kekuatan ini telah mengubah lanskap keamanan regional secara drastis.
“Interest China adalah tidak mau Timur Tengah itu bergejolak, apalagi berdarah. China tidak mau Iran itu hancur,” ujar Wibawanto dalam analisisnya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Sebagai pembeli energi terbesar sekaligus investor utama di Iran lewat mega-proyek infrastruktur One Belt One Road (OBOR), stabilitas kawasan adalah harga mati bagi pertumbuhan ekonomi China. Menjelang target Centennial kedua mereka pada tahun 2049, Beijing mengutamakan diplomasi perdagangan dan menghindari keterlibatan dalam perang terbuka. Kendati demikian, secara kalkulasi makro, China diuntungkan jika konsentrasi militer AS terpecah di Timur Tengah, sehingga tekanan Washington terhadap Beijing di kawasan Indo-Pasifik dapat sedikit melonggar.
Di sisi lain, Amerika Serikat justru berkejaran dengan waktu untuk segera meredam konflik di Timur Tengah. Sebagai kekuatan utama dunia (rolling power), AS membutuhkan terminasi konflik jangka pendek agar dapat mengalihkan sumber daya pertahanan dan energi mereka guna membendung pengaruh China (rising power) di tiga titik panas Indo-Pasifik: Taiwan, Laut China Selatan, dan Semenanjung Korea.
Namun, ambisi AS untuk menstabilkan kawasan terganjal oleh dinamika domestik Timur Tengah yang kini berpusat pada perseteruan Iran vs Israel, menggantikan isu tradisional Arab-Israel yang relatif sudah mereda. Bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, eksistensi rezim Iran dengan ambisi nuklirnya—meski diklaim untuk tujuan sipil—adalah ancaman fatal. Israel memegang prinsip bahwa memukul Iran melalui konfrontasi militer saat ini jauh lebih baik daripada harus menghadapi Iran yang telah memiliki senjata nuklir di masa depan.
Melihat peta yang kian bergejolak dan tidak menentu, negara-negara Arab yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Country Council/GCC) mulai mengambil langkah hedging atau lindung nilai politik. Merosotnya kepercayaan terhadap payung keamanan AS memaksa negara-negara kaya minyak ini bersikap oportunis dengan membuka pintu diplomasi dan ekonomi selebar-lebarnya kepada Rusia dan China.
Pergeseran aliansi multi-aktor ini menandai berakhirnya era dominasi tunggal AS di Timur Tengah. Kawasan tersebut kini tengah bertransformasi menuju tatanan multipolar baru, di mana kestabilan tidak lagi ditentukan oleh satu kekuatan super, melainkan oleh hasil tarik-menarik kepentingan dari berbagai aktor global yang saling mengunci



