Anthony Budiawan Bongkar Sesat Pikir Klaim Prabowo Orang Desat Tidak Terdampak Dollar

whatsapp image 2025 12 10 at 12.10.28

JAKARTA — Di tengah perdebatan sengit mengenai angka makroekonomi, para pengambil kebijakan kerap melontarkan narasi bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak berdampak langsung bagi masyarakat di pedesaan atau kelas bawah. Narasi ini menyebutkan bahwa masyarakat akar rumput tidak menggunakan dolar dan hidup di luar ekosistem pasar saham.

Namun, ekonom senior Anthony Budiawan dengan tegas membantah pandangan tersebut. Ia menilai anggapan bahwa krisis finansial tidak menyentuh masyarakat bawah adalah sebuah kekeliruan besar dan sangat berbahaya.

Berikut adalah ulasan berita mengenai dampak langsung pelemahan ekonomi terhadap kelompok masyarakat kelas bawah:

1. Rantai Pasok Impor dan Double Impact Harga Energi

Anthony menjelaskan bahwa perekonomian nasional tidak berdiri sendiri dari dinamika global. Indonesia masih mengandalkan impor untuk sejumlah kebutuhan vital, mulai dari bahan baku industri, mesin, hingga komoditas energi seperti minyak mentah dan LPG.

Ketika rupiah terpuruk dan harga minyak dunia melonjak, dampaknya langsung merambat ke sektor riil melalui mekanisme double impact.

  • Lonjakan Biaya Hidup (Cost of Living): Biaya produksi dan distribusi barang kebutuhan pokok meningkat tajam, yang secara otomatis memicu kenaikan harga-harga di pasar tradisional.
  • Beban Fiskal dan Kelangkaan: Pemerintah menghadapi dilema besar pada pos subsidi energi. Untuk menjaga defisit anggaran agar tidak melampaui batas toleransi 3 persen, pembatasan distribusi energi kerap ditempuh. Fenomena kelangkaan BBM dan LPG yang sempat terjadi di berbagai daerah (seperti Bali, Kediri, hingga Makassar) merupakan bukti nyata terganggunya aktivitas ekonomi rakyat di lapangan.

2. Sektor Informal dan Jerat Cicilan Kelompok Rentan

Dampak pelemahan rupiah dan inflasi tidak berhenti pada harga barang di pasar, melainkan langsung memukul kantong pekerja sektor informal dan buruh harian.

  • Suku Bunga dan Cicilan: Tekanan ekonomi makro berpotensi mengerek suku bunga naik. Hal ini langsung mencekik para pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online, kurir, dan pelaku UMKM yang menggantungkan hidup dari kendaraan atau modal usaha cicilan.
  • Kontras Kelas Sosial: “Kalau kita di kelas menengah atas, harga mau naik 10 persen atau 20 persen mungkin tidak menjadi masalah yang berarti—terdampak sedikit tapi tidak mempengaruhi kehidupan. Tapi bagi masyarakat bawah, ini masalah sangat besar sekali, bisa-bisa tidak makan,” tegas Anthony dalam analisisnya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.

3. Potret 193 Juta Penduduk Rentan

Sebagai catatan demografi ekonomi, Anthony membandingkan struktur sosial Indonesia dengan negara tetangga seperti Vietnam yang sama-sama berada dalam kategori negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income).

Di Indonesia, sekitar 64 persen dari total populasi—atau setara dengan 193 juta jiwa—berada dalam kategori kelas menengah ke bawah yang sangat rentan terhadap guncangan harga, inflasi, dan kenaikan biaya hidup. Kelompok inilah yang menanggung risiko paling berat ketika stabilitas makroekonomi goyah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top