DAMPAK NYATA PERANG IRAN VS AS-ISRAEL SANGAT BERBAHAYA BAGI INDONESIA

whatsapp image 2026 05 29 at 16.05.03 (1)

JAKARTA — Eskalasi militer yang kian membara antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan lagi sekadar tontonan politik di layar kaca. Konflik bersenjata di Timur Tengah ini membawa ancaman bahaya yang sangat nyata dan langsung terhadap stabilitas ekonomi serta kantong masyarakat di dalam negeri.

Pakar Hubungan Internasional senior Universitas Indonesia (UI), Prof . Suzie Sri Suparin S. Sudarman, M.A. sebagaimana dikutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, , memperingatkan bahwa posisi geografis dan ketergantungan ekonomi Indonesia pada sektor energi membuat negara ini sangat rentan terkena imbas jika perang terus meluas.

“Kita tidak bisa menganggap perang ini jauh. Dampaknya sangat sistemik. Begitu wilayah Timur Tengah bergolak, rembetan ekonominya akan langsung dirasakan oleh masyarakat di pasar-pasar tradisional hingga sektor industri kita,” kata Suzie

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa perang ini dikategorikan “terlalu berbahaya” bagi keberlangsungan ekonomi Indonesia:

1. Skenario Terburuk Selat Hormuz dan Lonjakan Harga BBM Iran memiliki kendali strategis atas Selat Hormuz, jalur pipa logistik tempat lewatnya sepertiga pasokan minyak mentah dunia. Jika jalur ini diblokade atau terganggu akibat pertempuran, harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak drastis melampaui asumsi APBN kita.

Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara importir minyak (net oil importer), lonjakan ini adalah mimpi buruk. Pemerintah akan dihadapkan pada dua pilihan pahit: menaikkan harga BBM di dalam negeri yang akan memicu lonjakan harga barang pokok, atau mempertahankan harga pangan dengan konsekuensi membengkaknya subsidi energi yang dapat menjebol pertahanan APBN.

2. Ancaman “Capital Outflow” dan Pelemahan Rupiah Dalam hukum ekonomi global, ketidakpastian akibat perang berskala besar akan memicu kepanikan pasar. Investor global cenderung menarik modal mereka dari negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—dan memindahkannya ke aset yang lebih aman (safe haven) seperti dolar AS atau emas.

Kondisi capital outflow (aliran modal keluar) ini akan memberikan tekanan berat pada nilai tukar Rupiah. Jika Rupiah melemah secara agresif terhadap dolar, biaya impor bahan baku industri dan pangan (seperti gandum dan kedelai) akan membubung tinggi, memicu inflasi yang langsung memukul daya beli masyarakat lapis bawah.

3. Gangguan Rantai Pasok Pangan dan Logistik Global Kawasan Timur Tengah merupakan titik simpul logistik maritim internasional, termasuk Terusan Suez. Konflik terbuka yang melibatkan kekuatan militer AS dan sekutunya akan mengacaukan rute pelayaran kapal kargo dunia. Akibatnya, biaya asuransi kapal dan ongkos kirim (freight rate) perdagangan internasional akan naik berkali-kali lipat, yang berujung pada mahalnya harga barang-barang konsumsi di dalam negeri.

Pentingnya Kesiagaan Nasional

Menutup analisis ekonomisnya, Suzie Sudarman menekankan bahwa situasi kritis ini harus disikapi pemerintah dengan memperkuat ketahanan pangan dan energi domestik, serta melakukan diversifikasi mitra dagang non-tradisional.

“Perang ini berbahaya karena memukul kita dari sisi yang paling sensitif: perut dan isi dompet rakyat. Oleh karena itu, diplomasi luar negeri kita harus bergerak linear dengan kebijakan ekonomi dalam negeri demi membentengi nasional kita dari inflasi global,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top