Demokrasi Bergerak Mundur
JAKARTA — Direktur Lingkar Madani (Lima) sekaligus pengamat politik senior, Ray Rangkuti, melontarkan kritik tajam terkait kondisi gerakan moral mahasiswa saat ini. Ia mensinyalir adanya upaya sistematis dari lingkaran kekuasaan untuk memecah belah kekuatan kritis mahasiswa dengan menciptakan benturan antarsesama elemen pemuda.
Fenomena “Mahasiswa vs Mahasiswa” ini dinilai sebagai strategi klasik untuk melemahkan kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
“Hari ini kita melihat ironi yang luar biasa. Mahasiswa yang seharusnya menjadi benteng nalar kritis dan berhadapan langsung dengan kebijakan keliru pemerintah, justru dihadapkan dengan sesama mahasiswa di lapangan,” ujar Ray dalam wawancara terbaru di kanal YouTube #SPEAKUP.
Menurut Ray, kemunculan kelompok mahasiswa “tandingan” yang secara agresif membela narasi pemerintah bukan terjadi secara organik. Ia menduga kuat adanya mobilisasi serta sokongan logistik dari pihak tertentu untuk memecah fokus gerakan moral yang murni.
Akibat operasi pecah belah (devide et impera) ini, energi gerakan mahasiswa habis untuk konflik internal dan kehilangan legitimasi moral di mata publik.
“Kekuasaan hari ini lebih sibuk mengelola negara lewat podium pencitraan, sementara di bawah meja, ruang hidup demokrasi dikerdilkan. Ketika ada riak kritis, instrumen tandingan langsung diciptakan agar publik melihatnya sebagai benturan horizontal, bukan protes rakyat ke penguasa,” tambahnya.
Menanggapi situasi ini, sejumlah mantan aktivis mahasiswa lintas generasi menyerukan agar seluruh elemen pemuda segera melakukan konsolidasi total. Mereka memperingatkan agar mahasiswa tidak terjebak menjadi tameng hidup atau alat legitimasi bagi elite politik praktis.
Kampus diharapkan kembali menjadi basis pergerakan yang independen dan steril dari intervensi kekuasaan demi menyelamatkan masa depan demokrasi Indonesia




kacau ini gaes